Minggu, 1 Oktober 2023

Baterai Pembangkit Listrik di Pulau Parang Jepara Rusak

Faqih Mansur Hidayat
Senin, 14 Maret 2022 14:02:46
Panel Suryat di PLTDS Pulau Parang Karimunjawa, Jepara (MURIANEWS/Faqih Mansur Hidayat)
[caption id="attachment_277844" align="alignleft" width="1280"] Panel Suryat di PLTDS Pulau Parang Karimunjawa, Jepara (MURIANEWS/Faqih Mansur Hidayat)[/caption]

MURIANEWS, Jepara – Baterai pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di Pulau Parang, Kecamatan Karimunjawa, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah rusak. Bahkan kerusakannya terjadi sejak 2019 lalu.

Operator PLTD/S di Pulau Parang, Aminun, mengungkapkan, sejak 2019 lalu, sebagian besar baterai pada pembangkit listrik itu sudah rusak. Akibatnya, aliran listrik yang bersumber dari PLTS menjadi tidak maksimal.

“Kalau dulu, pas matahari terik panas kami tidak usah pakai genset. Tapi, karena baterainya rusak, sekarang genset malah menjadi pembangkit utama,” ujar Aminun.

Baca juga: Listrik Pulau Parang Jepara Masih Belum Maksimal

Kabarnya, lanjut Aminun, pada 2022 ini ada anggaran perawatan untuk baterai dan peralatan di PLTD/S tersebut. Namun, dirinya tidak tahu pasti kapan anggaran tersebut akan turun.

“Katanya ada anggaran perawatan tahun ini. Diharapkan pembangkit yang tidak berfungsi bisa kembali berfungsi,” harap Aminun.

Aminun menambahkan, mulai tahun ini pihak PLN masuk ke Pulau Parang. Manajemen pengelolaan PLTD/S akan diambil alih oleh PLN. Namun, untuk sementara waktu, PLN masih akan menggunakan peralatan pembangkit yang masih ada.

Seorang warga setempat, Ilham mengatakan, listrik ke pulau itu sudah bisa dinikmati selama 24 jam sejak 2018. Namun, masih ada sejumlah kendala yang membayang-bayanginya.

Salah satu kendala itu, penggunaannya yang masih harus dibatasi. Sebab, ada batasan kapasitas aliran yang dinikmati masyarakat.

Ilham mengungkapkan, masing-masing rumah dijatah listrik dengan daya 1500 KWH dalam waktu 24 jam. Jika konsumsi listrik melebihi kapasitas itu, maka secara otomatis listrik akan mati.

 

Reporter: Faqih Mansur Hidayat
Editor: Zulkifli Fahmi

Komentar