Rabu, 28 Februari 2024

Harga Gabah Ndlosor, Petani Jepara Mumet

Faqih Mansur Hidayat
Senin, 13 Februari 2023 18:10:50
Petugas Bulog Jepara memantau stok beras di gudang. (Murianews/Faqih Mansur Hidayat)
Murianews, Jepara – Tingginya harga beras ternyata tak dibarengi dengan harga gabah. Saat harga beras melambung di pasaran, justru harga gabah malah ndlosor sepekan terakhir ini. Para petani pun dipusingkan dengan kondisi itu. Salah satunya, petani asal Desa Tedunan, Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara, Nasrun (61). Dia mengatakan, harga gabah kering panen (GKP) yang semula mencapai Rp 6.200 - Rp 6.300 per kilogram, anjlok menjadi Rp 5.500 hingga Rp 5.700 per kilogram. Ia menduga, penurunan harga ini akibat suplai beras bulog ke pasar tradisional untuk menekan harga beras di pasaran. Baca: Pajak dan Retribusi di Jepara Diatur Ulang ’’Kalau berasnya turun, gabahnya juga ikut turun. Padahal, para petani awalnya sudah senang karena harga gabah bagus tahun ini,’’ kata Nasrun, Senin (13/2/2023). Hal yang sama juga dirasakan Masduki (65). Petani di desa yang sama menyebut, harga gabah saat ini memang masih di atas harga pembelian pemerintah (HPP) oleh Bulog yang hanya Rp 4.200. Namun menurutnya, HPP yang ditetapkan pemerintah terlalu rendah. Bahkan, tidak mampu menutup biaya produksi petani. ’’Sekarang cari pupuk subsidi saja sulit. Kami beli pupuk urea non subsidi dengan harga Rp 500.000 per kwintal. Ada kartu tani untuk membeli pupuk urea bersubsidi seharga Rp 225.000 per kwintal, tapi barangnya sering kosong,’’ terang Masduki. Tingginya biaya produksi juga tidak hanya akibat pupuk. Biaya tenaga kerja di sawah juga cukup tinggi akibat tidak adanya regenerasi petani. ’’Sekarang biaya tandur saja Rp 75.000 per orang,’’ jelasnya. Ia berharap, pemerintah berpihak pada nasib petani. Harga beras yang sudah cukup baik bagi petani tidak dirusak dengan beras impor. Pemerintah juga diharapkan menetapkan HPP yang berpihak pada petani. Terlebih, kebutuhan pupuk tidak dapat dipenuhi hanya dengan pupuk bersubsidi. Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Kabupaten Jepara, Diyar Susanto mengatakan, produksi beras di Kabupaten Jepara dipastikan surplus. Produksi gabah saat ini mencapai 161.000 ton beras. Sedangkan, kebutuhan beras konsumsi untuk masyarakat Jepara hanya 131.000 ton. ’’Masalahnya, distribusi beras itu sesuai dengan musim. Jadi beras kita ke luar daerah dan sebaliknya,’’ bebernya. Terkait dengan harga, Diyar menilai itu tergantung pasar. Terkait pupuk bersubsidi, Diyar menyampaikan jika penyaluran pupuk bersubsidi mencapai lebih dari 90 persen. Pembelian pupuk hanya menggunakan kartu tani. Sehingga tidak bisa dialihkan kepada pihak lain. ’’Penyaluran pupuk bersubsidi sudah optimal,’’ pungkas Diyar.   Reporter: Faqih Mansur Hidayat Editor: Zulkifli Fahmi

Baca Juga

Komentar