Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Suara merdu dari alat musik gamelan yang antara lain terdiri atas Kendhang, Demung, Saron, Peking, Bonang, Gong, Slenthem, Kethuk dan Kenong, Gender, dan Gambang itu, begitu memesona mahasiswa. Diketahui, mereka terdiri atas 17 mahasiswa Indonesia dan 44 lainnya mahasiswa dari berbagai negara.

Diiringi lagu Gambang Suling dan Cublak-cublak Suweng, semua peserta MCP nampak tak sabar berlatih dan memainkan gamelan, di bawah arahan para mahasiswa PGSD dan dosen pembimbing seni karawitan di kampus tersebut."Gamelan ini alat musik yang menarik, tetapi memainkannya sangat sulit,’’ ujar Pinja Kiira Linnea, mahasiswa asal Finlandia diamini Nigin Kohistasni dari Afganistan

Keduanya dan para mahasiswa lain pun sangat antusias berlatih gamelan pada kegiatan MCP yang berlangsung 27 – 29 Oktober.Lebih lanjut, dirinya mengaku sangat senang mengikuti MCP yang didanai Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) melalui dana hibah penguatan Kantor Urusan Internasional (KUI) dan didukung Yayasan Pembina (YP.) UMK, Passage to ASEAN (P2A) dan Universitas Diponegoro (Undip) Semarang.

"Saya senang mengikuti acara Muria Cultural Program ini. Sebab, acaranya unik, menarik, dan pesertanya banyak sari berbagai negara, sehingga semakin menambah relasi internasional,’’ paparnya dalam acara yang dibuka Rektor UMK Suparnyo itu.

Ungkapan senang bisa mengikuti kegiatan MCP yang diselenggarakan UMK, ini juga sisampaikan Yassir Ahmed, mahasiswa asal Sudan. "Ini pertama kali perjalanan saya ke Kudus. Ternyata Kudus kaya akan budaya dan orangnya juga ramah," tuturnya.
Sebagai pelengkap dari pelatihan gamelan itu, peserta MCP pun mendapatkan pelatihan bahasa Jawa dialek Kudus yang disampaikan oleh Much Arsyad Fardani M.Pd. “Bahasa Jawa dalam beberapa variasi dikelompokkan menjadi tiga kelompok besar dialek, yaitu dialek bagian Barat, Tengah, dan Timur,” ujar Fardani.Dalam proses pengenalan Bahasa Jawa itu, para peserta pun diajak aktif mengucapkan berbagai kata, seperti Ceblok, digudak, jengen, lamuk, odak ndan deh yang kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris agar para mahasiswa asing memahami maknanya.Sementara itu, mahasiswa asing dalam MCP ini adalah para mahasiswa yang berasal dari Malaysia, Thailand, Brunei Darussalam, Finlandia, Afghanistan, Tanzania, Sierra Leonean, Chili, Jordania, Sudan, Rwanda.Sedang dari Indonesia, selain UMK sebagai tuan rumah, peserta berasal dari Undip, UGM, Unair, Unwahas Semarang, Unisnu Jepara, Stisip Amal Ilmiah Yapis Wamena Papua, UIN Sunan Kalijaga, Universitas Darussalam Gontor, IKIP PGRI Pontianak, Universitas Tidar Magelang, Unissula, Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin, Universitas Pembangunan Panca Budi Medan, dan Universitas Muhammadiyah Malang.Editor : Akrom Hazami

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler