MURIANEWS, Kudus – Transformasi digital menjadikan generasi muda rawan untuk terjebak pada hal-hal di luar jati diri bangsa. Oleh karenanya, dibutuhkan panduan etis yang bersumber dari nilai-nilai kebangsaan.
Terlebih generasi muda yang tumbuh dalam pusaran teknologi informasi ini, kelak menjadi penentu arah pembangunan bangsa. Hal ini mencuat dalam diskusi daring yang digelar Forum Diskusi Denpasar 12 berkerja sama dengan Y20 Indonesia 2022.
"Panduan etis yang bersumber dari nilai-nilai kebangsaan harus menjadi acuan seluruh generasi hari ini dalam berinteraksi dengan perkembangan teknologi untuk mewujudkan SDM berkualitas dan berdaya saing di masa depan," kata Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat dalam diskusi.
Menurut Lestari, kehadiran jaringan digital memungkinkan kaum muda untuk melakukan eksplorasi di berbagai bidang. Di satu sisi, ujar Rerie, sapaan akrab Lestari, transformasi digital memudahkan kaum muda menggunakan setiap platform digital untuk berbagi ide dan kreativitas.
”Di sisi lain, tak sedikit yang menyalahgunakan kemajuan teknologi untuk tujuan tertentu yang berlawanan dengan hukum,” ujarnya.
Baca: UMKM Buka-bukaan ke Ganjar soal Untung Masuk Pasar DigitalTantangan dalam transformasi digital, menurut dia yakni kaum muda bisa terhanyut dalam arus perubahan, terbiasa menularkan distorsi informasi, terlibat dalam gerakan tertentu yang merugikan diri sendiri, keluarga dan lingkungan.
”Kita harus bersiap untuk bukan hanya memperkenalkan dan mempersiapkan generasi muda dalam menggunakan teknologi digital, tetapi juga mempersiapkan tata kelolanya, termasuk perundang-undangan dan aturan di sejumlah lini kehidupan memasuki era digital saat ini dan masa datang,” terangnya.
”Kita harus bersiap untuk bukan hanya memperkenalkan dan mempersiapkan generasi muda dalam menggunakan teknologi digital, tetapi juga mempersiapkan tata kelolanya, termasuk perundang-undangan dan aturan di sejumlah lini kehidupan memasuki era digital saat ini dan masa datang,” terangnya.Sementara Komisaris Telkomsel, Yose Rizal berpendapat, pengembangan teknologi dan digitalisasi menjadi keharusan untuk menghadapi gelombang digital disruption yang terjadi saat ini.Apalagi, Yose menambahkan, selama pandemi Covid-19 terjadi perubahan perilaku konsumen yang mempercepat terjadinya digital adoption. Semua sektor dituntut untuk adaptif terkait perubahan tersebut.”Jadi, terpenting mengubah orang dari sisi perubahan
mindset, budaya perusahaan dan membangun capabilitas, dalam upaya transformasi teknologi digital,” terangnya.Founder INAmikro, Debbie R. Tampubolon sependapat bahwa yang paling sulit dalam transformasi digital adalah mengubah mindset orang yang akan menjalankan transformasi tersebut.INAmikro yang berupaya menjembatani bisnis mikro dengan perbankan lewat proses digital, ujar Debbie, juga mengalami kondisi itu. Reporter: Ali MuntohaEditor: Ali Muntoha
[caption id="attachment_286046" align="alignleft" width="1280"]

Lestari Moerdijat dalam Diskusi daring Forum Denpasar 12. (MURIANEWS/Istimewa)[/caption]
MURIANEWS, Kudus – Transformasi digital menjadikan generasi muda rawan untuk terjebak pada hal-hal di luar jati diri bangsa. Oleh karenanya, dibutuhkan panduan etis yang bersumber dari nilai-nilai kebangsaan.
Terlebih generasi muda yang tumbuh dalam pusaran teknologi informasi ini, kelak menjadi penentu arah pembangunan bangsa. Hal ini mencuat dalam diskusi daring yang digelar Forum Diskusi Denpasar 12 berkerja sama dengan Y20 Indonesia 2022.
"Panduan etis yang bersumber dari nilai-nilai kebangsaan harus menjadi acuan seluruh generasi hari ini dalam berinteraksi dengan perkembangan teknologi untuk mewujudkan SDM berkualitas dan berdaya saing di masa depan," kata Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat dalam diskusi.
Menurut Lestari, kehadiran jaringan digital memungkinkan kaum muda untuk melakukan eksplorasi di berbagai bidang. Di satu sisi, ujar Rerie, sapaan akrab Lestari, transformasi digital memudahkan kaum muda menggunakan setiap platform digital untuk berbagi ide dan kreativitas.
”Di sisi lain, tak sedikit yang menyalahgunakan kemajuan teknologi untuk tujuan tertentu yang berlawanan dengan hukum,” ujarnya.
Baca: UMKM Buka-bukaan ke Ganjar soal Untung Masuk Pasar Digital
Tantangan dalam transformasi digital, menurut dia yakni kaum muda bisa terhanyut dalam arus perubahan, terbiasa menularkan distorsi informasi, terlibat dalam gerakan tertentu yang merugikan diri sendiri, keluarga dan lingkungan.
”Kita harus bersiap untuk bukan hanya memperkenalkan dan mempersiapkan generasi muda dalam menggunakan teknologi digital, tetapi juga mempersiapkan tata kelolanya, termasuk perundang-undangan dan aturan di sejumlah lini kehidupan memasuki era digital saat ini dan masa datang,” terangnya.
Sementara Komisaris Telkomsel, Yose Rizal berpendapat, pengembangan teknologi dan digitalisasi menjadi keharusan untuk menghadapi gelombang digital disruption yang terjadi saat ini.
Apalagi, Yose menambahkan, selama pandemi Covid-19 terjadi perubahan perilaku konsumen yang mempercepat terjadinya digital adoption. Semua sektor dituntut untuk adaptif terkait perubahan tersebut.
”Jadi, terpenting mengubah orang dari sisi perubahan
mindset, budaya perusahaan dan membangun capabilitas, dalam upaya transformasi teknologi digital,” terangnya.
Founder INAmikro, Debbie R. Tampubolon sependapat bahwa yang paling sulit dalam transformasi digital adalah mengubah mindset orang yang akan menjalankan transformasi tersebut.
INAmikro yang berupaya menjembatani bisnis mikro dengan perbankan lewat proses digital, ujar Debbie, juga mengalami kondisi itu.
Reporter: Ali Muntoha
Editor: Ali Muntoha