Selasa, 28 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Pertemanan yang condong ke arah bebas ini bisa saja menjadi gerbang untuk menuju seks bebas atau malah menjadi sebuah pelecehan seksual. Hal inilah yang bisa saja merusak ataupun menurunkan moral para remaja khususnya di daerah Kudus.

Amana, salah satu mahasiswa di perguruan tinggi di Kudus itu mengaku  mengetahui istilah friend with benefit hanya sebatas pertemanan dekat lawan jenis saja.

"Tau sih, semacam sahabatan lawan jenis gitu, jadi kalo gelisah curhatnya ke dia," ucap Amana.

Dia menambahkan terkadang ada komitmen apa-apa saja yang tidak boleh dilakukan dan boleh dilakukan.

"Biasanya ada batasan-batasan, biar tidak baper," tandasnya.

Sementara itu A.N, mengatakan dirinya sempat terjebak dalam hubungan racun tersebut.

"Tau, dan itu saya hampir kebablasan, dia minta foto saya terus tapi lama kelamaan kok minta agak yang terbuka dan kami bukan sedang berpacaran," tuturnya.
Dirinya menyarankan agar para remaja khususnya perempuan agar tidak terlalu terbuka dengan teman laki-lakinya.Di sisi lain, S. Trimo, Selaku Plt Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinsos P3AP2KB) mengatakan bahwa fenomena ini sebenarnya sama saja dengan kenakalan remaja pada umumnya jika sudah mulai condong ke arah yang negatif."Di KB itu ada progam yang untuk mengedukasi remaja terkait no nikah muda, no seks bebas, dan no narkoba, itu sama saja mungkin dengan pergaulan bebas," ucapnya.Dirinya menambahkan bahwa para remaja seharusnya bisa memegang nilai-nilai agamanya masing-masing, dengan begitu para remaja bisa terhindar dari kenakalan-kenakalan remaja yang menjerumuskan.Sementara itu, Fika, salah satu ibu rumah tangga dari kecatamatan Jati, Kudus mengaku jika dirinya belum tau ada fenomena itu, dia mengatakan jika anaknya tidak pernah bercerita kalau dia punya teman lawan jenis yang dekat dengan anaknya."Anak saya smp kelas 3, dia belum pernah cerita kalau punya teman laki-laki yang dekat, tapi kalau tau ada fenomena ini si saya harus lebih sering tanya-tanya lagi ya sama dia," ucapnya.Editor : Supriyadi

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler