Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Kudus Abdul Halil saat meninjau lokasi Terminal Bakalan Krapyak siang tadi (24/4/2019). Sepinya terminal dijelaskan Hilal sudah terjadi sejak sepekan yang lalu.

”Jika di hari biasa bus bisa mencapai 40 sampai 50, kini hanya berkisar 25 bus saja. Sedang di akhir pekan, yang biasanya 100 bus, kini hanya berkisar 70 bus. Kemungkinan karena faktor pemilu,” katanya

Selain Pemilu 2019, ujian nasional yang sedang berjalan di berbagai jenjang pendidikan juga jadi penyebabnya. Ia menduga banyak orang tua yang mempersiapkan ujian anak-anaknya.

"Hal tersebut juga banyak mempengaruhi," terang Halil.

Di luar faktor pengunjung, banyaknya kantong parkir swasta yang mulai bertebaran di sekitaran Menara Kudus juga jadi pemecah pusat kantong parkir di terminal Bakalan. Pendapatan dari mini bus dan bus-bus besar pun berkurang.

"Kami tidak bisa melarang, karena mereka menggunakan lahannya sendiri," ucapnya.

Sekalipun demikian, Halil memastikan kesiapan menghadapi puncak ziarah telah dilakukan seluruhnya. Penambahan fasilitas seperti ruang kesehatan dan infrastruktur penunjang lainnya pun telah siap dipergunakan para peziarah."Kami tetap lakukan persiapan semaksimal mungkin," tegasnya.Disinggung terkait target pendapatan, Halil menjelaskan tahun ini Terminal Bakalan Krapyak ditarget menyumbang Rp 1,3 miliar untuk PAD 2019. Dengan tarif per bus yang hanya sebesar Rp 10.300, pihaknya akan coba mengoptimalkan potensi yang ada."Kami upayakan semaksimal mungkin supaya bisa capai target," tandasnya. Reporter: Anggara Ragil JiwandhanaEditor: Supriyadi

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler