Tak ada kalimat protes atau sanggahan dari para penyedia jasa wisata. Mereka, menerima dengan lapang dada kebijakan yang akan diterapkan pemkab pada mata pencaharian yang selama 3 bulan belakang telah digeluti.
Warsidi, salah satu pemilik perahu mengaku sudah menerima kebijakan yang akan diterapkan nanti. Pihaknya pun siap menaikkan kapalnya jika dirasa sudah saatnya dinaikkan. Apalagi saat air mulai surut, perahu akan susah untuk naik.
“Saya pribadi dan perwakilan menerima kebijakan ini,” katanya.
Hanya, pihaknya mengharapkan pembinaan serta arahan yang lebih dari pemkab terkait kejelasan kedepannya. Hal tersebut dirasa perlu mengingat sebentar lagi para penyedia jasa perahu secara tak langsung akan kehilangan mata pencahariannya.
“Kami siap dituntun dan kami siap dibina untuk kedepannya,” ucap Warsidi.
[caption id="attachment_166541" align="aligncenter" width="720"]

Bupati Kudus HM Tamzil saat meninjau wisata perahu logung bersama rombongan (MURIANEWS.com/Anggara Jiwandhana)[/caption]
Pasca benar-benar berhenti beroperasi nanti, Warsidi akan kembali kerja serabutan di Dukuh Kandangmas. Sembari menunggu arahan serta pembinaan selanjutnya soal pengembangan potensi wisata di Bendungan Loguung. Yang rencananya segera di susun pihak Pemkab.
Senada, Rinto (50) salah satu nahkoda kapal mengatakan, pihaknya akan ikut pada kebijakan yang diterapkan oleh Pemkab Kudus. Dengan harapan, Rinto bersama teman-teman nahkoda dan penyedia jasa perahu bisa mendapat hasil yang lebih baik saat wisata benar-benar dibuka nanti.
“Kami menerima keputusan tersebut,” ucapnya.
Beban melepaskan mata pencaharian barunya tentu ada di benak Rinto. Bagaimana tidak, dalam sehari Ia bersama para penyedia jasa yang lain bisa mengantongi pendapatan sebesar Rp 500 hingga Rp 1 juta per hari. Tergantung ramainya pengunjung.
Beban melepaskan mata pencaharian barunya tentu ada di benak Rinto. Bagaimana tidak, dalam sehari Ia bersama para penyedia jasa yang lain bisa mengantongi pendapatan sebesar Rp 500 hingga Rp 1 juta per hari. Tergantung ramainya pengunjung.“Jumlah tersebut hampir merata di semua nahkoda, jika ada acara besar bisa sampai jutaan rupiah,” ucapnya.Rinto pun berharap, Pemkab segera mencari alternatif lain serta pemecahan masalah yang bisa dikatan krusial tersebut. Terlebih lagi bendung logung sangat berpotensi dalam sektor pariwisata.“Kami berharap rancangan desain pariwisata yang dijanjikan Pemkab segera terealisasi,” tandasnya.Sementara Bupati Kudus HM Tamzil mengupayakan pembuatan DED pariwisata sesegera mungkin. sedang pembangunan nyata akan dilaksanakan 2020 mendatang. “2019 DED rampung, 2020 mulai dilakukan pembangunan,” ucap Tamzil.Pembangunan infrastruktur tahap pertama akan ditekankan pada zona 4 dan zona 1. Zona 4 berada di lokasi perahu logung. Sedang zona 1 berada pada pulau seberang dermaga. “Akan dibuat akses jalan, parkir, toilet, dan yang terpenting dermaga,” katanya.Sedang pengembangan terdekat, para penyedia jasa perahu akan diboyong ke Waduk Jatibarang guna melakukan studi bbanding. Dengan harapan, para penyedia jasa serta pengelolanya bisa mencontoh managemen, standarisasi perahu, dan berbagai aspek lain.“Jadi benar-benar bisa mengembangkan potensi yang maksimal dan terarah managemennya. Kontribusi untuk Pemdes juga bisa dilakukan,” tandas Tamzil. Reporter: Anggara JiwandhanaEditor: Supriyadi
MURIANEWS.com, Kudus - Para penyedia jasa wisata perahu di Bendungan Logung akhirnya sepakat memberhentikan kegiatan wisata perahunya. Keputusan tersebut diambil setelah mereka berunding bersama Pemkab Kudus di Balai Desa Kandang Mas, Rabu (19/6/2019) sore.
Tak ada kalimat protes atau sanggahan dari para penyedia jasa wisata. Mereka, menerima dengan lapang dada kebijakan yang akan diterapkan pemkab pada mata pencaharian yang selama 3 bulan belakang telah digeluti.
Warsidi, salah satu pemilik perahu mengaku sudah menerima kebijakan yang akan diterapkan nanti. Pihaknya pun siap menaikkan kapalnya jika dirasa sudah saatnya dinaikkan. Apalagi saat air mulai surut, perahu akan susah untuk naik.
“Saya pribadi dan perwakilan menerima kebijakan ini,” katanya.
Hanya, pihaknya mengharapkan pembinaan serta arahan yang lebih dari pemkab terkait kejelasan kedepannya. Hal tersebut dirasa perlu mengingat sebentar lagi para penyedia jasa perahu secara tak langsung akan kehilangan mata pencahariannya.
“Kami siap dituntun dan kami siap dibina untuk kedepannya,” ucap Warsidi.
[caption id="attachment_166541" align="aligncenter" width="720"]

Bupati Kudus HM Tamzil saat meninjau wisata perahu logung bersama rombongan (MURIANEWS.com/Anggara Jiwandhana)[/caption]
Pasca benar-benar berhenti beroperasi nanti, Warsidi akan kembali kerja serabutan di Dukuh Kandangmas. Sembari menunggu arahan serta pembinaan selanjutnya soal pengembangan potensi wisata di Bendungan Loguung. Yang rencananya segera di susun pihak Pemkab.
Senada, Rinto (50) salah satu nahkoda kapal mengatakan, pihaknya akan ikut pada kebijakan yang diterapkan oleh Pemkab Kudus. Dengan harapan, Rinto bersama teman-teman nahkoda dan penyedia jasa perahu bisa mendapat hasil yang lebih baik saat wisata benar-benar dibuka nanti.
“Kami menerima keputusan tersebut,” ucapnya.
Beban melepaskan mata pencaharian barunya tentu ada di benak Rinto. Bagaimana tidak, dalam sehari Ia bersama para penyedia jasa yang lain bisa mengantongi pendapatan sebesar Rp 500 hingga Rp 1 juta per hari. Tergantung ramainya pengunjung.
“Jumlah tersebut hampir merata di semua nahkoda, jika ada acara besar bisa sampai jutaan rupiah,” ucapnya.
Rinto pun berharap, Pemkab segera mencari alternatif lain serta pemecahan masalah yang bisa dikatan krusial tersebut. Terlebih lagi bendung logung sangat berpotensi dalam sektor pariwisata.
“Kami berharap rancangan desain pariwisata yang dijanjikan Pemkab segera terealisasi,” tandasnya.
Sementara Bupati Kudus HM Tamzil mengupayakan pembuatan DED pariwisata sesegera mungkin. sedang pembangunan nyata akan dilaksanakan 2020 mendatang. “2019 DED rampung, 2020 mulai dilakukan pembangunan,” ucap Tamzil.
Pembangunan infrastruktur tahap pertama akan ditekankan pada zona 4 dan zona 1. Zona 4 berada di lokasi perahu logung. Sedang zona 1 berada pada pulau seberang dermaga. “Akan dibuat akses jalan, parkir, toilet, dan yang terpenting dermaga,” katanya.
Sedang pengembangan terdekat, para penyedia jasa perahu akan diboyong ke Waduk Jatibarang guna melakukan studi bbanding. Dengan harapan, para penyedia jasa serta pengelolanya bisa mencontoh managemen, standarisasi perahu, dan berbagai aspek lain.
“Jadi benar-benar bisa mengembangkan potensi yang maksimal dan terarah managemennya. Kontribusi untuk Pemdes juga bisa dilakukan,” tandas Tamzil.
Reporter: Anggara Jiwandhana
Editor: Supriyadi