Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Dugaan tersebut berdasarkan dari keterangan para korban. Mengingat sampel makanan yang diduga menyebabkan keracunan puluhan santri, sudah tidak ditemukan. Korban bahkan sempat mengaku jika urap yang dimakannya telah berasa asam (kecut).

“Urap yang diduga meracuni puluhan santri sudah tidak ada saat kami kesana,” kata Kasi Surveillance dan Imunisasi Anik Fuad.

Anik merincikan, berdasar hasil wawancara tersebutlah muncul dugaan keracunan tersebut muncul. Apalagi masa inkubasi keracunannya lebih dari dua jam. Dan masa inkubasi bakteri Staphylococcus lebih dari 12 jam.

“Urap yang mereka makan pada Selasa (15/10/2019) sore, sedang gejala keracunan Rabu (16/10) pagi hingga malam, ini masih dugaan,” lanjutnya.

Baca Juga:
Selain menduga makanan yang diberikan ke santri telah basi. Pihaknya juga menduga, keracunan ini dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan kebiasaan dari santri. Dimana biasanya para santri mengambil makan terlebih dahulu dan baru memakannya setelah mengaji.“Maka dari itu, urapnya terpapar banyak bakteri dan basi,” terangnya.Untuk pencegahan, pihaknya pun akan melakukan sosialisasi penjamah makanan, sanitasi lingkungan dan PHBS kepada para santriwati di pondok pesantren tersebut. “Ini kami lakukan supaya tidak terjadi kejadian seperti ini lagi,” tandasnya. Reporter: Anggara JiwandhanaEditor: Supriyadi

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler