Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Perayaan Bwee Gee  sendiri merupakan sebuah perayaan di mana para umat Tri Darma menyambut  Hari Berterima Kasih kepada Dewa Bumi.

Masing-masing kelenteng membawa patung dewanya masing-masing. Patung dewa, kemudian diarak berkeliling Kota Kretek dengan rute yang telah ditentukan oleh panitia.

Yakni dari Kelenteng Hok Hien Bio menuju Alun-Alun Kudus. Kemudian kembali ke kelenteng dengan rute dari SMP 2 Kudus.

Hujan pun tidak menyurutkan para iringan pengarak dewa. Irama khas juga terus diperdengungkan selama kirab berlangsung.

Masyarakat Kudus juga demikian. Mereka tetap menanti di tepi jalan untuk sekadar menonton kirab satu tahunan tersebut.

Panitia Perayaan Bwee Gwee Kudus Liong Kok Tjun menyebut jika kirab ini merupakan bentuk rasa terima kasih kepada Dewa Bumi (Ho Tik Tjing Sien) yang telah menjaga dan memelihara alam semesta ini. Selain itu juga, katanya, Dewa Bumi juga telah memberikan rezeki yang melimpah.

"Bwee Gwee mempunyai arti yang luas, tidak hanya untuk umat Tri Dharma, melainkan untuk masyarakat pada umumnya," katanya.
"Bwee Gwee mempunyai arti yang luas, tidak hanya untuk umat Tri Dharma, melainkan untuk masyarakat pada umumnya," katanya.Liong pun beranggapan jika tahun ini adalah tahun kebangkitan Indonesia. Hal tersebut dikarenakan pemerintah telah mengayomi masyarakatnya dengan baik. Sehingga tercipta situasi wilayah tetap aman, damai dan tenteram.“Sikap toleransi antarumat beragama juga semakin baik sehingga tercipta kerukunan ini,” lanjutnya.Liong menambahkan, perayaan ini telah dilakukan sejak 2006 lalu. Serta telah mendapat dukungan dari banyak kelenteng di Indonesia. Jumlah pesertanya pun dari tahun ke tahun mengalami peningkatan.“Tahun ini ad 53 kelenteng, seharusnya ada 60, tiga di antaranya mundur karena kebanjiran, empat lainnya hanya mengikuti ritual keagamaan saja,” terangnya. Reporter: Anggara JiwandhanaEditor: Ali Muntoha

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler