Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah Yulianto Prabowo mengungkapkan, salah satu hal yang bisa dilakukan untuk menurunkan persentase kematian adalah penemuan kasus secara dini.
Dengan penemuan dini, kata dia, para pasien corona yang memiliki penyakit penyerta bisa segera diobati dan ditangani dengan cara yang tepat.
“Jika gejalanya masih ringan, maka akan mudah diobati,” katanya, di Kudus, Jumat (3/7/2020).
Prabowo menyebut, jika yang terpapar dari kalangan usia tua dan memiliki penyakit penyerta, jika bisa ditangani dengan cepat, maka dimungkinkan tingkat kesembuhannya lebih besar.
Kasus kematian pasien corona di Jateng sendiri, menurutnya, keseluruhannya merupakan pasien dengan penyakit penyerta serta berusia lanjut. “Sampai sekarang belum ada yang murni meninggal karena corona,” ujarnya.
Kemudian untuk mendukung deteksi dini tersebut, Pemprov Jateng sendiri tengah berupaya menambah fasilitas laboratoriun uji Covid-19. Sehingga persebaran laboratnya lebih merata.
Jateng sendiri, lanjutnya, memiliki 11 laboratorium tes Covid-19 ditambah enam rumah sakit daerah yang memiliki alat uji. Walau memang diakui tingkat persebarannya belum merata.
“Meskipun dari sisi jumlah sudah tergolong ideal, tapi memang belum merata,” kata dia.
Untuk penambahan alat tes Covid-19, disebutnya memang tidak mahal. Hanya saja, biaya operasionalnyalah yang lebih mahal.
Untuk penambahan alat tes Covid-19, disebutnya memang tidak mahal. Hanya saja, biaya operasionalnyalah yang lebih mahal.“Untuk sementara kami memaksimalkan yang ada dengan otomatisasi, sehingga pekerjaan yang semula masih manual, kini serba otomatis,” jelas dia.Pihaknya pun kembali mengingatkan, masyarakat merupakan garda terdepan dalam penanganan corona di Jawa Tengah.Oleh karena itu, dia berharap masyarakat bisa bahu membahu dengan prinsip Jogo Tonggo. “Sementara para tenaga kesehatan merupakan garda paling belakang,” lanjutnya.Apabila garda paling depan dalam hal ini masyarakat bisa solid dan kuat, maka garda paling akhir bisa kuat pula. Namun sebaliknya, jika garda terdepannya lemah, maka garda belakang akan kewalahan. “Di sini peran masyarakat penting sekali,” terangnya.Jumlah kasus corona di Jawa Tengah sendiri, berdasar
https://corona.jatengprov.go.id/ hingga Jumat (3/7/2020) siang, angka kasus positif Covid-19 tercatat sebanyak 4.519 kasus.Sebanyak 1.903 kasus masih menjalani perawatan, sedangkan 2.236 kasus dinyatakan sembuh dan 380 kasus dinyatakan meninggal. Reporter: Anggara JiwandhanaEditor: Ali Muntoha
MURIANEWS, Kudus – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah menargetkan angka kematian pasien corona menurun hingga empat persen. Saat ini, persentase kematian pasien corona di Jawa Tengah masih berada di angka delapan persen.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah Yulianto Prabowo mengungkapkan, salah satu hal yang bisa dilakukan untuk menurunkan persentase kematian adalah penemuan kasus secara dini.
Dengan penemuan dini, kata dia, para pasien corona yang memiliki penyakit penyerta bisa segera diobati dan ditangani dengan cara yang tepat.
“Jika gejalanya masih ringan, maka akan mudah diobati,” katanya, di Kudus, Jumat (3/7/2020).
Prabowo menyebut, jika yang terpapar dari kalangan usia tua dan memiliki penyakit penyerta, jika bisa ditangani dengan cepat, maka dimungkinkan tingkat kesembuhannya lebih besar.
Kasus kematian pasien corona di Jateng sendiri, menurutnya, keseluruhannya merupakan pasien dengan penyakit penyerta serta berusia lanjut. “Sampai sekarang belum ada yang murni meninggal karena corona,” ujarnya.
Kemudian untuk mendukung deteksi dini tersebut, Pemprov Jateng sendiri tengah berupaya menambah fasilitas laboratoriun uji Covid-19. Sehingga persebaran laboratnya lebih merata.
Jateng sendiri, lanjutnya, memiliki 11 laboratorium tes Covid-19 ditambah enam rumah sakit daerah yang memiliki alat uji. Walau memang diakui tingkat persebarannya belum merata.
“Meskipun dari sisi jumlah sudah tergolong ideal, tapi memang belum merata,” kata dia.
Untuk penambahan alat tes Covid-19, disebutnya memang tidak mahal. Hanya saja, biaya operasionalnyalah yang lebih mahal.
“Untuk sementara kami memaksimalkan yang ada dengan otomatisasi, sehingga pekerjaan yang semula masih manual, kini serba otomatis,” jelas dia.
Pihaknya pun kembali mengingatkan, masyarakat merupakan garda terdepan dalam penanganan corona di Jawa Tengah.
Oleh karena itu, dia berharap masyarakat bisa bahu membahu dengan prinsip Jogo Tonggo. “Sementara para tenaga kesehatan merupakan garda paling belakang,” lanjutnya.
Apabila garda paling depan dalam hal ini masyarakat bisa solid dan kuat, maka garda paling akhir bisa kuat pula. Namun sebaliknya, jika garda terdepannya lemah, maka garda belakang akan kewalahan. “Di sini peran masyarakat penting sekali,” terangnya.
Jumlah kasus corona di Jawa Tengah sendiri, berdasar
https://corona.jatengprov.go.id/ hingga Jumat (3/7/2020) siang, angka kasus positif Covid-19 tercatat sebanyak 4.519 kasus.
Sebanyak 1.903 kasus masih menjalani perawatan, sedangkan 2.236 kasus dinyatakan sembuh dan 380 kasus dinyatakan meninggal.
Reporter: Anggara Jiwandhana
Editor: Ali Muntoha