Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Salah satu petani cabai di Desa Setrokalangan, Mulyono (45) mengatakan, semenjak pandemi merebak, harga cabai hanya berkisar Rp 4 ribu hingga Rp 8,5 ribu per kilogramnya.
Padahal, saat musim sebelumnya harga jual cabai tersebut bisa mencapai Rp 45 ribu per kilogram. “Kalau bagus harganya itu Rp 40 ribu sampai Rp 50 ribu per kilogram,” katanya, Senin (10/8/2020).
Tak hanya itu, adanya kemarau panjang saat ini juga membuat biaya operasional makin membengkak. Mengingat banyak tanamannya diserang berbagai macam hama. “Mulai dari ulat, sampai patek (serangga), biayanya jadi tinggi,” lanjutnya.
Pihaknya pun berharap ada bantuan pembiayaan dari pemerintah kepada para petani. Terlebih, kata dia, selama pandemi corona ini. “Karena selama ini kami memang dari dana sendiri,” jelas dia.
Sementara itu, Anggota Komisi XI DPR RI Fathan menilai, fungsi perbankan belum maksimal dalam mendorong sektor pertanian. Dia pun menemukan masih banyak petani yang menggunakan biaya sendiri untuk kebutuhan ladangnya.
“Saya cek lapangan tentang pembiayaan dan akses perbankannya ternyata masih ada yang swadana. Fungsi perbankan belum memberikan dukungan di sektor pertanian,” ucapnya saat melakukan reses di Kudus.
Baca Juga
Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik
WhatsApp Channel
&
Google News



