Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Hal tersebut dilakukan guna menghindari kematian ibu saat mengandung atau saat proses melahirkan.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat pada Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus Anik Retnowati mengatakan, para ibu sebaiknya memang melakukan medical check up terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk hamil kembali.

“Dengan begitu, ibu mengetahui apakah dirinya layak untuk hamil lagi dan fisiknya mumpuni,” katanya, Kamis (8/10/2020).

Selain itu, faktor 4T juga harus diperhatikan. Anik mengatakan, 4T merupakan singkatan dari terlalu tua usia saat melahirkan, terlalu muda usia saat melahirkan, terlalu dekat jarak melahirkan, dan terlalu banyak anak.

“Faktor 4T ini juga yang jadi penyebab kenapa kematian ibu masih terjadi, terlebih di Kabupaten Kudus,” ujarnya.

https://www.instagram.com/p/CF-axAipanw/

Pihak DKK sendiri, kata dia, terus berupaya menurunkan angka kematian ibu di Kabupaten Kudus. Mulai dari pemberian 200 paket Pemberian Makanan Tambahan (PMT) untuk ibu hamil di sembilan kecamatan.

Hingga menanggung biaya persalinan ibu hamil melalui biaya jampersal. ”Kami ingin ibu hamil yang melahirkan bisa ditangani dengan benar oleh medis,” terangnya.
Hingga menanggung biaya persalinan ibu hamil melalui biaya jampersal. ”Kami ingin ibu hamil yang melahirkan bisa ditangani dengan benar oleh medis,” terangnya.Para ibu hamil juga diminta untuk mengikuti senam hamil atau membaca buku-buku tentang merawat kehamilan. Sehingga bisa mengetahui perawaatan yang pas bagi ibu dan si jabang bayi.“Kalau di kami punya progam namanya Sinau Bareng Selembar Sehari Buku KIA (Sirengsari Bu Kia) dan Pantau risiko tinggi ibu hamil jangan ada kematian ibu dan bayi (PARIJATA), ini juga bisa untuk mencegah kematian ibu,” jelasnya.Sementara berdasar data yang dihimpun Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus, kasus kematian ibu sejak Januari hingga Oktober 2020, kini mencapai sebelas kasus. Empat di antaranya meninggal di masa pandemi dan berstatus positif corona.“Di sisa tahun ini tentu kami akan berupaya menekan AKI dan melindungi ibu hamil dari virus corona,” tandasnya.https://www.youtube.com/watch?v=IyPsPj0c_ac Reporter: Anggara JiwandhanaEditor: Ali Muntoha

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler