Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Kudus HM Hartopo mengatakan, ketika sudah memasuki bulan Oktober, Kudus harus sudah siap menghadapi segala bencana yang mungkin bisa timbul. Mengingat pada bulan tersebut adalah musim hujan.

“Oktober harus siap, biasanya terjadi banjir, tanah longsor, dan puting beliung,” kata Hartopo usai memimpin apel tanggap bencana di Alun-Alun Simpang Tujuh Kudus, Sabtu (24/10/2020) pagi.

Semua pimpinan kecamatan pun diminta untuk mempersiapkan dan memetakan wilayah rawan bencananya. Serta, mempersiapkan relawan penanggulangan bencana per desa.

“Dengan begitu bisa mempersiapkan diri lebih dini lagi,” ujar Hartopo.

Di tiap kecamatan juga, kata Hartopo, diminta untuk menyiapkan satu tempat untuk pengungsian. Lengkap dengan dapur umum dan fasilitas kesehatannya.

“Untuk tempat pengungsian, bisa dilakukan ketika sudah ada tanda bencana saja tidak masalah,” jelas dia.

Sementara pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kudus telah memetakkan daerah di Kudus yang berpotensi terjadi bencana. Untuk bencana longsong, kerap terjadi di Kecamatan Dawe dan Gebog.

Sedangkan banjir, sering terjadi di Kecamatan Mejobo, Undaan, Jekulo, Jati, dan Kaliwungu. Lebih rinci, untuk desa yang kerap jadi langganan bencana longsor, adalah di Desa Rahtawu, Kambangan, Japan dan Soco.Alasannya, adalah tanah yang gembur serta padat permukiman. Air yang mengalir, tuturnya, juga cenderung tidak lewat atas tanah. Melainkan mengalir lewat dalam tanah.“Jadi air meresap ke dalam tanah setelah itu mengalir. Bila tidak ada akar pohon yang menghalangi aliran akan longsor,” kata Kepala Seksi (Kasi) Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kudus Wiyoto.Sementara untuk banjir, lanjutnya, kerawanananya ada di Desa Jati Wetan, Jati Kulon, Pasuruan, Setro Kalangan, Banget, Kesambi dan Temulus. Untuk desa yang rawan banjir, lanjut Wiyoto yakni di Desa Jati Wetan, Jati Kulon, Pasuruan, Setro Kalangan, Banget, Kesambi dan Temulus.“Masalah tahun lalu itu adanya sampah rumah tangga dan pendangkalan sungai. Tanggul kritis dan beberapa titik rusak,” tambahnya. Reporter: Anggara JiwandhanaEditor: Ali Muntoha

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler