Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Total dan omzet produksi yang sempat anjlok pun kini berangsur stabil kembali. Walau belum seratus persen, kenaikan produksi dan omzet kini mulai berangsur stabil.

Salah satu perusahaan rokok yang mulai bangkit kembali adalah Perusahan Rokok (PR) Rajan Abadi. Pabrik yang berproduksi di Kawasan Industri Hasil Tembakau (KIHT),  Desa Megawon, Kecamatan Jati Kudus tersebut pun mulai menaikkan produksinya.

Pemiliknya, Sutrisno mengaku  jumlah produksi dan omzet yang didapat kini sudah 90 persen normal kembali. Empat produk rokoknya pun kini sudah mulai disebar di sejumlah daerah di Indonesia.

“Sudah normal walau belum seratus persen,” kata dia ketika dijumpai di pabriknya Jumat (11/12/2020).

Saat awal-awal pandemi, kata dia, omzet dan produksinya bisa turun drastis di bawah 50 persen. Hal tersebut dikarenakan adanya pembatasan-pembatasan yang dilakukan sejumlah daerah pemasarannya.

“Saat itu bingung sendiri, sempat tidak produksi, terus pertama kali produksi hanya dua ribu batang rokok saja,” lanjutnya.

Namun saat ini, produksi rokonya sudah berangsur normal. Dengan jumlah pegawai sekitar 150 orang, pihaknya pun menerapkan protokol kesehatan di braknya.

“Walau produksi naik, kami tetap mengedepankan protokol kesehatan di dalam brak, sehingga tidak ada penularan corona di sana,” tandasnya.Senada, pemilik PR Betoro Gutru Syafi’i yang tiap harinya kini bisa memproduksi sekitar 40 ball rokok. Perballnya, kata dia, adalah sebanyak 200 bungkus rokok. Sementara per bungkusnya, berisi 12 rokok.“Kami mempekerjakan setidaknya 75 orang untuk memenuhi kebutuhan pasar,” kata dia.Rokok-rokok hasil produksinya tersebut lantas dikirim ke sejumlah daerah di Pulau Jawa dan Sumatera. “Semua pendistribusian masih aman,” kata dia.Soal mengapa rokok golongan tiga sudah tak terpengaruh pandemi, Syafii menduga jika banyak orang beralih ke rokok murah di era pandemi seperti ini. Karena stabilitas ekonomi juga tengah goyah. “Jika rokok kelas atas paling murah Rp 14 ribu, kami hanya Rp 8 ribu saja,” jelas dia. Reporter: Anggara JiwandhanaEditor: Ali Muntoha

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler