Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


MURIANEWS, Kudus – Dari 102 kasus baru penularan penyakit Human Immunodeficiency virus dan acquired immune deficiency syndrome (HIV-AIDS) di Kudus, 40 persennya disumbang Homoseksual.

Sementara sisanya berasal dari pekerja seks hingga pemakai jasa pekerja seks sebesar 30 persen. Dari golongan ibu rumah tangga juga menyumbang kasus yang cukup banyak, yakni sebesar 30 persen.

Fakta itu diungkapkan Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD). Adapun data 102 kasus baru itu ditemukan sejak Januari hingga Oktober 2021.

“Jumlah penyitas yang berasal dari kelompok risiko mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya yang berada di prosentase 30 persen,” kata Anggota KPAD Kudus Eni Mardiyanti yang juga Koordinator Kelompok Dampingan Sebaya (KDS) dan Kaukus Masyarakat Anti Narkoba pada MURIANEWS, Selasa (23/11/2021).

Baca juga: KPAD Temukan 102 Kasus HIV Baru di Kudus

Kenaikan pada jumlah prosentase tersebut, lanjut Eni, adalah hasil dari notifikasi pasangan yang dilakukan KPAD. Notifikasi pasangan sendiri, adalah cara untuk melacak dan melakukan skrining pada orang yang sudah terpapar HIV.

“Biasanya penyuka sesama jenis itu pasangannya lebih dari satu, sehingga sangat dimungkinkan ketika skrining bisa ditemukan kasus baru dan akhirnya meningkat,” imbuh dia.Untuk mendongkrak tes skrining HIV, pihaknya pun mendorong pemerintah daerah untuk melakukan skrining pada kelompok rentan seperti pekerja seks, penyuka sejenis, hingga buruh harian lepas.Eni, juga mendorong tes skrining HIV dilakukan oleh calon pengantin yang akan menjalankan pernikahan. Sehingga selain bisa mendongkrak jumlah skrining, juga bisa mendeteksi lebih dini virus tersebut.“Puskesmas-puskesmas di Kudus kami dorong untuk memfasilitasi ini, sehingga tidak ada kejadian bayi meninggal karena tertular HIV dari orang tuanya,” pungkas Eni Reporter: Anggara JiwandhanaEditor: Zulkifli Fahmi

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler