Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


MURIANEWS, Kudus – Kudus dihantam bencana banjir dan longsor dalam waktu hampir bersamaan. Total ada tujuh titik yang terkena bencana tersebut, yakni banjir di dua titik dan tanah longsor di lima titik.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kudus mencatat tujuh peristiwa itu terjadi hampir bersamaan, mulai Rabu (19/1/2022) hingga Kamis (20/1/2022).

Adapun, rinciannya sebagai berikut:

1. Tanah Longsor

Peristiwa tanah longsor, terjadi di Dukuh Pandak dan Dukuh Kombang Desa Colo, Kecamatan Dawe pada Rabu (19/1/2022) malam. Dalam peristiwa tersebut, masing-masing menimpa satu buah rumah warga setempat dengan total kerugian jutaan rupiah.

Kemudian, longsor juga terjadi di Dukuh Mereng Wetan Desa Kajar, Dukuh Kambangan Desa Menawan Kecamatan Gebog dan Dukuh Japan Desa Japan Kecamatan Dawe pada Kamis (20/1/2022) dini hari.

“Rata-rata mengenai rumah, hanya satu peristiwa longsor yang tidak mengenai rumah karena berada di samping pekarangan milik warga, yakni di Dukuh Kombang Colo,” kata Pelaksana harian Kepala BPBD Kudus Budi Waluyo, Kamis (20/1/2022).

Baca juga: Banjir Bikin Warga Golantepus Kudus Tak Tidur Nyenyak

2. Banjir di Golantepus, Mejobo

Banjir di Desa Golantepus, terjadi sejak Rabu (19/1/2022) malam, tepatnya pukul 23.00 WIB. Banjir tersebut, menyebabkan sekitar 200-an rumah tergenang.

Air banjir sendiri berasal dari limpasan Sungai Mrisen yang memiliki tanggul yang rendah. Selain itu, kondisi pintu air yang rusak juga memperparah limpasan. Untuk saat ini, air masih menggenangi rumah warga. Ketinggiannya, bervariasi mulai dari lima centimeter hingga 30 centimeter.

Baca juga: Tanggul Sungai Jebol, Puluhan Rumah Warga Pladen Kudus Sempat Tergenang Banjir

3. Banjir di Pladen Jekulo

Bencana banjir, terjadi di Dukuh Jawek, Desa Pladen, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus. Banjir, disebabkan karena jebolnya tanggul sungai desa sepanjang delapan meter dan tinggi kurang lebih satu setengah meter. Air pun kemudian limpas dan menggenangi rumah-rumah warga setempat.
Bencana banjir, terjadi di Dukuh Jawek, Desa Pladen, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus. Banjir, disebabkan karena jebolnya tanggul sungai desa sepanjang delapan meter dan tinggi kurang lebih satu setengah meter. Air pun kemudian limpas dan menggenangi rumah-rumah warga setempat.Dalam peristiwa tersebut, ada sekitar 70-an rumah yang terkena limpasan dan sempat tergenang. Namun berkait inisiasi warga dan relawan, tanggul jebol tersebut ditambal dengan bata konblok sehingga limpasan tak terlalu parah.Saat ini sendiri, tanggul yang jebol juga telah diperkuat dengan tumpukan karung berisikan pasir. Air limpasan yang berada di pemukiman warga juga telah surut.Baca juga: Tanah Longsor Timpa Lima Lokasi di Kudus4. PenyebabBudi mengatakan tingginya curah hujan yang terjadi beberapa hari terakhir di Kudus menyebabkan luapan air sungai dan membuat tanah di daerah tebing menjadi labil.Seperti di Golantepus, Mejobo dan Pladen, Jekulo. Sungai di sana sampai meluap dan limpas menggenangi pemukiman warga.Bahkan, tanggul sungai di Desa Pladen sampai jebol. Sementara banjir di Desa Golantepus, Mejobo disebabkan tanggul sungai yang rendah, akibatnya air melimpas.5. Imbauan BPBDDi musim penghujan seperti ini, Budi menyampaikan agar warga yang tinggal di daerah rawan bencana untuk tetap siaga. Terlebih curah hujan di Kabupaten Kudus diperkirakan masih tinggiAntisipasi dengan penyiapan tas evakuasi berisi surat-surat berharga maupun perlengkapan pengungsian pun dianjurkan. Sehingga ketika terjadi bencana alam yang tiba-tiba dan membutuhkan evakuasi, prosesnya bisa cepat dilakukan.“Kepala desa diharapkan aktif memonitoring warga dan wilayahnya, kerja bakti juga diharapkan bisa dijalankan bila diperlukan,” pungkasnya. Reporter: Anggara JiwandhanaEditor: Zulkifli Fahmi

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler