Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


MURIANEWS, Kudus – Beberapa wilayah di Kabupaten Kudus merupakan daerah rawan bencana tanah longsor, seperti di Kecamatan Gebog dan Dawe. Dua kecamatan itu lantaran berada di lereng Gunung Muria.

Untuk itu perlu mengetahui tanda-tanda akan terjadinya bencana tanah longsor itu. Meski tak bisa mencegah peristiwa itu terjadi, setidaknya dengan melihat tanda-tanda itu, warga bisa segera menyelamatkan diri dan barang-barang pribadi.

Relawan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kudus Alfin menyampaikan, ada sejumlah tanda-tanda yang tampak ketika tanah dikatakan jenuh dan akan longsor.

Baca juga: Gegara Bencana, Kudus Alami Kerugian Nyaris Rp 2,5 M

Yang paling menonjol, adalah muncul retakan pada tanah. Kondisi tersebut, biasanya dibarengi dengan kemiringan pohon yang tidak biasa serta adanya kucuran air di seputaran tanah.

“Kalau di sekitarnya ada vegetasi, itu bisa tampak. Kalau miringnya sudah kelewatan, maka segera mengevakuasi diri atau barang-barang pribadi yang penting yang dimungkinkan akan terkena guguran longsor,” kata Alfin, Sabtu.

Masyarakat di daerah rawan longsor, lanjut Alfin, juga perlu waspada bila terjadi hujan di wilayah pegunungan lebih dari dua jam. Apalagi setelah itu timbul gemuruh disertai guguran kerikil yang meluncur ke bawah.
Masyarakat di daerah rawan longsor, lanjut Alfin, juga perlu waspada bila terjadi hujan di wilayah pegunungan lebih dari dua jam. Apalagi setelah itu timbul gemuruh disertai guguran kerikil yang meluncur ke bawah.“Nah ini harus segera mengevakuasi diri, karena sangat dimungkinkan itu akan terjadi peristiwa tanah longsor,” pungkasnya.Untuk mencegah kerugian yang lebih besar dari bencana tersebut, warga yang tinggal di daerah rawan bencana harus tanggap bencana.Antisipasi dengan penyiapan tas evakuasi berisi surat-surat berharga maupun perlengkapan pengungsian pun dianjurkan. Sehingga ketika terjadi bencana alam yang tiba-tiba dan membutuhkan evakuasi, prosesnya bisa cepat dilakukan.Bencana tanah longsor sendiri, menyumbang kerugian materi sebanyak Rp 172,1 juta selama tahun 2021. Jumlah itu berasal dari 15 bangunan yang tertimpa longsor dan mengalami rusak berat. Reporter: Anggara JiwandhanaEditor: Zulkifli Fahmi

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler