Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


MURIANEWS, Kudus – Dewan Pimpinan Nasional Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (DPN APTRI) berharap Pabrik Gula (PG) Rendeng Kudus bisa kembali beroperasi dengan kembali menggiling tebu pada tahun 2022 ini.

Pasalnya, mandeknya giling pada tahun kemarin membuat petani tebu cukup menelan kerugian.

“Utamanya di biaya transportasi. Ada yang sudah ke sana (PG Rendeng, red) tapi ternyata gilingnya tidak jadi, selain petani kami juga bersimpati kepada para pekerjanya mereka,” kata Sekjen DPN APTRI M Nur Khabsyin, Sabtu (19/3/2022).

Berdasarkan informasi yang dia terima, adanya mandek giling PG Rendeng karena revitalisasi mesin yang tak kunjung rampung.

Baca: Karyawan PG Rendeng Kudus Demo, Tuntut Kejelasan Kapan Pabrik Bisa Giling Tebu

Khabsyin pun menyebut ini adalah murni kesalahan kontraktor penggarap revitalisasi karena tidak selesai tepat waktu.

“Problemnya ada di sana (kontraktor, red) harusnya mereka yang bertanggung jawab,” ujarnya.

Walau begitu, dia tetap mendorong Kementerian BUMN untuk bisa terjun dan mencari permasalahannya secara langsung. Dengan begitu tidak ada permasalahan yang berlarut di pabrik gula peninggalan Belanda itu.
Walau begitu, dia tetap mendorong Kementerian BUMN untuk bisa terjun dan mencari permasalahannya secara langsung. Dengan begitu tidak ada permasalahan yang berlarut di pabrik gula peninggalan Belanda itu.PG Rendeng sendiri, memang sempat mengalami mandek produksi pada tahun 2021 kemarin. Hal tersebut dikarenakan adanya revitalisasi alat produksi.Baca: Sampah Rumah Tangga Diduga Jadi Biang Baunya Limbah PG Rendeng KudusPuncaknya, adalah pada bulan Juni di mana ada ratusan pekerja PG Rendeng yang berdemo menuntut pabrik agar segera bisa beroperasi.Ketua Serikat Pekerja Pertanian dan Perkebunan(SPPP) SPSI  Edi Wantoro kala itu mengatakan bila PT Wika dan PT Barata selaku kontraktor revitalisasi sebenarnya telah melanggar adendum sebanyak dua kali, yakni pada tanggal 7 dan pada tanggal 15 Juni 2021 yang menyebabkan kemunduran giling.Bagi mereka, kemunduran giling sangatlah berakibat fatal. Utamanya adalah hilangnya kepercayaan petani tebu dan hilangnya bahan baku tebu. Kalau tidak ada bahan baku tebu, maka tidak bisa giling.Penyelesaian revitalisasi sebenarnya ditarget rampung akhir tahun 2019 dan bisa diujicobakan. Namun hingga tahun 2020 masih gagal bahkan hingga tahun 2021 lalu.Reporter: Anggara JiwandhanaEditor: Ali Muntoha

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler