Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


MURIANEWS, Kudus – Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, meminta para petani di Kudus untuk mulai menggunakan pupuk organik saat masa tanam mendatang.

Selain bisa meningkatkan kesuburan di tanah pertanian, penggunaan pupuk organik untuk tanaman padi juga diklaim bisa menghasilkan padi yang lebih sehat.

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Perkebunan Dinas Pertanian dan Pangan Kudus Dewi Masitoh menyampaikan, di Kudus sendiri, sudah ada petani yang mencoba menggunakan pupuk organik. Walau memang, belum diterapkan seratus persen untuk menanam tanaman padi.

“Selama dua tahun terakhir ini dia masih konsisten menggunakan pupuk organik untuk pemupukannya, hasilnya bisa menghasilkan padi sehat,” katanya, Kamis (26/5/2022).

Baca: Petani di Kudus Diminta Mulai Beralih ke Pupuk Organik

Bahkan, sambung Dewi, ketika diikutkan dalam lomba tingkat provinsi, padi yang dipupuk menggunakan pupuk organik bisa mendapatkan juara. Begitu pula di tingkat nasional yang mendapatkan peringkat kedua.

“Petani yang menggunakan pupuk organik, produktivitas panennya juga cukup bagus karena per hektare tanaman padinya bisa menghasilkan antara 7-8 ton gabah, sedangkan dengan pupuk kimia 100 persen hasilnya juga tidak jauh beda, tidak ada salahnya mulai beralih dengan organik,” ujarnya.

Dewi menjelaskan, yang terjadi di lapangan ketika petani terus menggunakan pupuk kimia adalah unsur hara di dalam tanah akan semakin berkurang. Tanah akan cenderung berubah jadi asam karena Ph tanah semakin berkurang atau kurang dari angka 6.“Idealnya tingkat keasamannya berkisar antara 6-7 atau posisi netral, sedangkan lebih dari delapan menunjukkan tanah terlalu basah dan tingkat kesuburannya juga kurang,” terangnya.Baca: Alokasi Pupuk di Kudus Belum Sesuai KebutuhanDia menambahkan, ada satu hal baik yang dirasakan ketika petani tidak bergantung pada pupuk kimia bersubsidi adalah ketika alokasi pupuk bersubsidi tidak sesuai rencana definitif kebutuhan kelompok (RDKK), maka petani tidak akan bingung.“Ada memang pupuk nonorganik yang nonsubsidi, tapi harganya mahal dibanding pupuk bersubsidi, jadi tidak ada salahnya mencoba dengan pupuk organik,” pungkasnya. Reporter: Anggara JiwandhanaEditor: Ali Muntoha

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler