Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


MURIANEWS, Kudus – Harga komoditas kopi Muria di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, menjelang panen raya tahun 2022 ini cenderung stabil. Kondisi itu juga dibarengi dengan jumlah permintaan yang juga cenderung stabil pula dari tahun ke tahun.

Ketua Kelompok Tani Kopi Desa Colo Purbo Wiyanto mengatakan, untuk komoditas dalam bentuk brongkol kopi yang dijual ke pengepul, harga rata-ratanya adalah mencapai Rp 500 ribu per kuintal.

Sementara untuk harga biji kopi dalam bentuk kering beras, per kilonya mencapai Rp 25 ribu.

”Menjelang panen raya ini juga harganya masih di kisaran ini, di tahun kemarin sempat ada permintaan kenaikan namun tahun ini stabil kembali,” kata Purbo, Jumat (24/6/2022).

Purbo menyebut, untuk satu hektare lahan kopi bisa menghasilkan sekitar 5 ton brongkol kopi campur.

Baca: Mengenal Tradisi Wiwit Kopi di Desa Colo Kudus

Sebagian petani, menjualnya ke pengepul dari Kabupaten Wonosobo maupun Temanggung. Sebagian petani lainnya memilih untuk menjual brongkol ke koperasi kopi milik para petani kopi di Desa tersebut.

”Saat ini kan mereka menjualnya terserah ya mau dijual ke mana, ya memang rata-rata ke daerah Wonosobo dan Temanggung,” ucapnya.
”Saat ini kan mereka menjualnya terserah ya mau dijual ke mana, ya memang rata-rata ke daerah Wonosobo dan Temanggung,” ucapnya.Untuk memulai panen raya, masyarakat di Desa Colo telah menggelar tradisi Wiwit Kopi. Dalam tradisi itu, semua petani kopi di daerah tersebut menggelar doa bersama di areal perkebunan. Tradisi itu pada tahun ini dilakukan pada Kamis (24/6/2022) sore kemarin.Baca: Fakta Candi Borobudur, Pemerintah Hindia Belanda pernah Mendirikan Warung Kopi di Puncak StupaUsai memanjatkan doa yang dipimpin oleh tokoh agama setempat, mereka lalu menyantap semacam bekal pakem yang berisi nasi, ayam, telur, tahu, tempe, dan kuluban yang mereka bawa dari rumah secara beramai-ramai.Walau terkesan sederhana, tradisi yang terus digelar setiap tahun itu menyimpan makna yang mendalam bagi para petani di sana.”Tradisi ini digelar sebelum panen raya, jadi masing-masing petani dengan keluarganya membawa ambengan (bekal) dari rumah. Kemudian kami berdoa bersama dan makan bersama di tengah perkebunan,” ucapnya. Reporter: Anggara JiwandhanaEditor: Ali Muntoha

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler