Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


MURIANEWS, Kudus – Sejumlah peternak sapi perah di Kabupten Kudus, Jawa Tengah, mulai merasakan dampak wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Selain karena tidak bisa mendatangkan sapi perah yang baru, hasil produksi susu dari sapi-sapi perahnya pun kini mulai berkurang.

Salah satu peternak yang merasakan ini adalah Zainal Abidin. Peternak sapi perah asal Desa Garung Lor, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus, ini mengaku jika jumlah produksi susu dari sapinya kini berkurang.

Zainal yang memiliki 19 ekor sapi perah biasanya bisa memproduksi sekitar 200 liter lebih susu sapi segar. Namun semenjak adanya PMK, produksinya turun menjadi 170 liter saja.

”Secara alami produksi susu dari satu ekor sapi kan memang berkurang dari tahun ke tahun. Karena itu perlu mendatangkan sapi lagi, namun saat ini kan tidak memungkinkan, dan akhirnya hasil perahannya berkurang,” kata dia Senin (4/7/2022).

Beruntungnya, adanya PMK tidak berimbas pada permintaan susu segar tiap harinya. Walau memang, penurunan produksi susu sapi cukup membuatnya kewalahan.

”Satu liter susu biasanya kami jual Rp 20 ribu. Saat PMK ini juga masih sama, tidak ada perubahan walau komoditasnya cepat habis,” ujarnya.

Baca: Sapi Dewasa di Kudus Tak jadi Prioritas Vaksinasi PMK, Ini SebabnyaDia pun berharap wabah PMK di Kabupaten Kudus bisa segera berlalu atau setidaknya membaik. Pasalnya ketika terus terjadi, dia tidak bisa mendatangkan sapi-sapi perah yang baru dan produksi akan semakin menurun.”Dari awal PMK saya sudah tidak tukar tambah sapi lagi, jadi tidak ada yang masuk. Mau pakai sistem karantina ya kami tidak ada kandang karantina jadi ya belum bisa,” pungkasnya.Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertan) Kabupaten Kudus, mulai menyuntikkan vaksin PMK kepada sekitar sapi perah di Kota Kretek. Kabupaten Kudus sendiri, pada tahap pertama ini mendapat alokasi vaksin sebanyak 500 dosis. Reporter: Anggara JiwandhanaEditor: Ali Muntoha

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler