Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


MURIANEWS, Kudus – Pusaka peninggalan Sunan Kudus, Keris Kiai Cinthaka dan tombak trisula dijamas. Penjamasan dua pusaka itu dilakukan di komplek Makam Sunan Kudus, Kamis (14/7/2022).

Sebelum dijamas, kedua pusaka terlebih dahulu dikeluarkan dari tempat penyimpanan berbentuk kotak berbahan kayu. Kotak tersebut disimpan di atap bangunan tajuk.

Sebuah cairan yang disebut banyu londho, yang memiliki kegunaan untuk mempertahankan warna hitam dan kilapnya keris pun disiapkan. Keris dan tombak trisula, kemudian dicelupkan ke dalam air tersebut sebanyak tiga kali.

Setelah tiga kali celupan ke air pencucian, keris langsung dikeringkan di atas tumpukan sekam ketan hitam dalam nampan. Kemudian, keris diberi wewangian dan dikembalikan seperti semula dengan diiringi bacaan selawat.

Baca: Pusaka Sunan Kudus Dijamas, Begini Urut-Urutan Prosesnya

Humas Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) Denny Nur Hakim mengatakan, penjamasan rutin diadakan setiap hari Senin atau Kamis pertama setelah hari Tasyrik.

Atau sekitar tanggal 11, 12, dan 13 bulan Zulhijah. ”Seperti pada hari ini, ini adalah Kamis pertama setelah hari tasyrik,” ucapnya di sela prosesi jamas.Penjamasan lebih ditujukan untuk menjaga benda pusaka peninggalan Sunan Kudus. Hal tersebut dikarenakan nilai budaya yang terkandung dalam keris bertipe belah atau biasa disebut Dapur Panimbal tersebut sangatlah tinggi.”Selain itu juga ini adalah bentuk nguri-uri budaya dari kami,” sambungnya.Acara penjamasan sendiri ditutup dengan doa dan tahlil dari para tamu undangan yang datang. Reporter: Anggara JiwandhanaEditor: Ali Muntoha

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler