Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


MURIANEWS, Kudus – Kemajuan teknologi kini benar-benar dimanfaatkan oleh semua lapisan di masyarakat. Ini juga yang dilakukan oleh para pengemis di Kudus, Jawa Tengah.

Mereka menggunakan Smartphone untuk saling berkomunikasi dan menghindari razia dari Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kudus.

Hal ini diungkapkan oleh Kepala Satpol PP Kudus Kholid Seif, Rabu (27/7/2022). Selama penertiban pengemis, gelandangan, dan orang terlantar (PGOT) di Kota Kretek, timnya kerap menjumpai para pengemis ini bersembunyi sebelum timnya tiba.

Setelah timnya pergi, barulah mereka keluar kembali dan mengemis dengan berbagai cara. Mulai dari mengamen hingga meminta secara langsung.

”Yang baru sajalah kemarin, itu saya lihat sendiri mereka sembunyi terus pakai HP dia. Ngomong dengan temannya kalau di sini sini sini ada razia satpol, lah mereka sembunyi itu langsung, baru setelah kami lewat mereka ada lagi,” kata dia heran.

Baca: Nggak Kapok, Pengemis Miliarder ini Kembali Kena Razia di Pati

Kholid menambahkan, dalam kategori pengemis, ada badut, musisi angklung, pengamen, hingga manusia silver yang masuk dalam kategori ini. Sehingga mereka harus ditertibkan, baik yang sudah dewasa maupun anak-anak.
Kholid menambahkan, dalam kategori pengemis, ada badut, musisi angklung, pengamen, hingga manusia silver yang masuk dalam kategori ini. Sehingga mereka harus ditertibkan, baik yang sudah dewasa maupun anak-anak.”Mereka memanfaatkan sesuatu alat untuk perantara mereka meminta-minta, jadi memang harus ditertibkan sesuai regulasi yang ada,” sambungnya.Baca: Soal Tendang Badut, Satpol PP Kudus Janji Akan Lebih HumanisSatpol PP sendiri berupaya semaksimal dan sehumanis mungkin saat menertibkan PGOT. Namun faktor di lapangan terkadang mempengaruhi emosional petugas.”Kami akan berupaya semaksimal mungkin untuk lebih humanis dalam menertibkan PGOT dari waktu ke waktu,” tandasnya. Reporter: Anggara JiwandhanaEditor: Ali Muntoha

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler