Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Ini merupakan rencana jangka panjang menuju zero waste, zero emission (ZWZE) 2040 yang menjadi target Pemkab usai memperoleh penghargaan Adipura 2022 oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) beberapa waktu lalu.

Program ini pun dinamai dengan Kudus ASIK. Di mana gerakan yang saat ini tengah berjalan adalah dengan mengumpulkan sampah organik yang berasal dari 278 mitra.

Mereka terdiri dari catering dan rumah makan, hotel, fasilitas kesehatan dan pendidikan, panti asuhan dan pondok pesantren.

Selanjutnya, sampah organik tersebut diolah di pusat pengomposan berkapasitas 50 ton di Pusat Pembibitan Tanaman (PPT) BLDF di Kabupaten Kudus.

”Kolaborasi berbagai pemangku kepentingan tentunya diperlukan untuk merealisasikan ZWZE 2040. Maka dari itu, kami mengapresiasi upaya BLDF dalam program Kudus Asik ini,” kata Bupati Kudus HM Hartopo, Selasa (14/3/2023).

Baca: Dapat Adipura Kencana, Penanganan Sampah di Jepara Dinilai Masih Belum Optimal

Selain itu, Pemkab Kudus saat ini juga tengah memaksimalkan Pusat Daur Ulang (PDU) berkapasitas 10 ton. Serta mendorong program buang sampah dibayar dengan sampah (Busadipah).”Kami juga mengoptimalkan kinerja bank sampah unit desa (BSU), dan berkolaborasi dengan berbagai pihak dalam mengolah sampah organik menjadi kompos atau maggot,” pungkasnya.Sementara Vice President Director Djarum Foundation FX Supanji menuturkan, sejak 1979, BLDF telah merintis berbagai upaya menuju zero emission melalui pelestarian lingkungan dan penanaman pohon.Di tahun ini BLDF melebarkan sayap dengan program tata kelola sampah melalui pengurangan jumlah sampah organik di daerah hulu.”Kami percaya, inisiatif pengelolaan sampah organik ini, akan berdampak signifikan pada penurunan emisi karbon,” ungkapnya. Editor: Ali Muntoha

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler