Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Perang obor memiliki beberapa fakta unik di dalamnya. Terutama terkait dengan properti yang digunakan oleh para prajurit perangnya. Atraksi tradisi ini menyugguhkan perang dengan mengambil tempat di Perempatan Desa Tegal Sambi.

Ribuan orang memadati empat penjuru jalan, yang digunakan sebagai tempat ‘bertarung’ para prajurit. Sementara tepat di pusat perempatan para tokoh penting akan ‘mengobarkan perang’ dengan menyulut api untuk pertama kalinya. Selanjutnya dimulai perempatan ini, perang obor akan bergulir ke sepanjang jalan di empat sisinya.

Para prajurit yang berperang tidak menggunakan properti khusus. Mereka hanya menggunakan baju dan celana biasa saja. Untuk sekadar melindungi panas api, ada yang menggunakan pelindung kepala.

“Mereka yang akan berperang tidak ada syarat apapun. Paling penting adalah sehat, berani dan tidak memiliki dendam apapun usai perang dilakukan. Hanya itu saja,” ujar Petinggi Desa Tegal Sambi, Agus Santoso, Selasa (6/8/2019).

[caption id="attachment_169967" align="alignleft" width="1920"] Peserta perang obor saling menyabetkan bara api dari klaras yang terbakar. (MURIANEWS.com/Budi Erje)[/caption]

Para prajurit ini biasanya akan menggotong sebuah ‘alat perang’ berupa pilinan besar klaras (daun pisang kering). Ukurannya bisa mencapai dua setengah meter, dan memiliki diameter hingga 20 cm. Pilinan klaras inilah yang akan dibakar dan mereka gunakan untuk saling menggebuk.

Gebukan obor api inilah yang menjadi atraksi dalam tradisi perang obor ini. Adegan saling gebuk ini akan berakhir sampai pilinan klaras yang dibakar habis.

Tapi sebelum itu, setiap prajurit bisa saja menambah amunisi pilinan klarasnya yang habis terbakar. Mereka akan mengambil di ‘gudang senjata’ yang sudah disediakan, lalu membakarnya dan kembali mencari lawan untuk saling menggebuk lagi.

Namanya bermain api, tentu akan terkena api. Luka bakar menjadi keniscayaan dalam atraksi bernama Perang Obor ini.Usai perang biasanya puluhan orang mengalami luka bakar. Tidak hanya para prajurit saja, namun juga penonton yang berjubel di pinggir arena.Untuk soal ini, Desa Tegal Sambi memiliki ramuan khusus. Seperti Desa Galia dalam komik Asterix-Obelix, yang memiliki ramuan khusus, maka Desa Tegal Sambi juga memilikinya.Namun bedanya, kalau di Desa Galia, ramuan yang dibuat dukun Panoramix bisa membuat kuat, ramuan yang di Desa Tegal Sambi digunakan untuk menyembuhkan luka bakar.Menurut Petinggi Desa Agus Santoso, ramuan ini dibuat menggnualan minyak kelapa murni. Minyak tersebut sebelumnya sudah diberi berbagai bunga yang telah direndam selama setahun. Khasiatnya, secara ajaib bisa menyembuhkan luka bakar.“Cukup dioleskan saja ke bagian yang mengalami luka bakar. Maka luka bakarnya akan segera sembuh,” ujar Agus Santoso. Reporter: Budi ErjeEditor: Ali Muntoha

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler