Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Kabid P2P (Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit) pada DKK (Dinas Kesehatan Kabupaten) Jepara, dr Fachruddin, menyatakan penanganan HIV/AIDS memang terus dilakukan secara berlanjut sejak seseorang terdeteksi virus ini.

Dijelaskan, masalah HIV/AIDS seperti fenomena gunung es. Tingginya jumlah penderita di Jepara bisa disikapi dengan beberapa pendekatan. Dari sudut penanganan, banyaknya jumlah orang yang terdeteksi justru menjadi sebuah pertanda yang baik.

Dengan adanya pendeteksian penderita HIV/AIDS, maka bisa dilakukan langkah-langkah pencegahan agar tidak meluas labih jauh lagi. Mereka bisa ditangani dan tidak menimbulkan masalah ke masyarakat lainnya.

“Itu dari sisi penanganan terhadap masalah ini. Memang ada juga penilaian dari sisi yang lain. Bahwa dengan tingginya angka penderita ini, maka dianggap telah terjadi sebuah masalah, biasanya dikaitkan dengan persoalan moral masyarakat,” ujarnya, Jumat (8/11/2019).

Di Kabupaten Jepara sendiri, ada beberapa hal yang ditengarai menjadi faktor tingginya penyebaran penyakit mematikan ini. Faktor industrialisasi yang tengah berlangsung di Jepara salah satunya. Industri  yang saat ini tumbuh di Jepara membuat banyak orang dari luar Jepara datang.

Baca: Pemeriksaan HIV/AIDS Sasar Rumah Kos di Jobokuto Jepara

Di antara mereka yang datang, kemungkinan ada yang membawa virus ini dan kemudian dari berbagai proses akhirnya menularkan virusnya. Kemudian ada juga faktor banyaknya warga Jepara yang bekerja ke kota-kota besar, lalu terjangkit dan pulang ke kampungnnya.“Banyak wanita di Jepara yang terinfeksi virus ini tanpa sadar, dilakukan oleh suaminya sendiri yang juga tidak sadar, setelah mendapatkannya saat bekerja di luar Jepara. Kasus seperti ini banyak di Jepara,” katanya.Dari data yang ada, penderita HIV/AIDS di Jepara, yang terbanyak adalah perempuan. Jumlahnya mencapai 626 orang. Sementara yang laki-laki jumlahnya 509 orang.Kemudian jumlah yang saat terdeteksi masih terjangkit HIV jumlahnya 591 orang dan yang sudah AIDS mencapai 544 orang. Dari keseluruhan penderita HIV/AIDS yang jumlahnya mencapai 1.135 orang sejak 1997, sebanyak 214 di antaranya sudah meninggal dan 921 lainnya masih hidup hingga sekarang. Reporter: Budi ErjeEditor: Ali Muntoha

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler