Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Dari pantauan lapangan, ribuan warga Kendeng Sidi Alit berbondong-bondong menuju ke tanggul Kali Anyar, yang berada di pinggiran desa. Selain membawa boneka jerami beraneka bentuk mereka juga menenteng ingkung ayam dan nasi. Tidak lupa mereka juga membawa makanan dan minuman untuk masing-masing keluarga.

Arak-arakan warga dimulai dari depan Balai Desa menyusuri jalan desa kemudian menuju ke selatan desa. Melewati persawahan dan akhirnya menempati bagian dari tanggul Kali Anyar. Di tempat ini, semua bekal dibuka, dijajar untuk kemudian didoakan dan disantap bersama.

Petinggi Desa Kendeng Sidi Alit Kahono Wibowo menyatakan bangga dengan kemauan warganya. Tradisi ini akan terus dijaga dan dilestarikan. Tradisi desa akan terus dilesatarikan sebagai bekal untuk membangun desa.

Sejak 21 November lalu, desanya memang menggelar sebuah kegiatan akbar melibatkan warga desa. Kegiatan tersebut adalah ‘Gelar Budaya, Niti Budoyo Noto Desa’. Ada beberapa kegiatan yang digelar, salah satunya adalah kirab seribu ingkung yang digelar pada Minggu (1/12/2019).

[caption id="attachment_177824" align="alignnone" width="1280"] Sejumlah warga menikmati kirab di Desa Kendeng Sidi Alit. (MURIANEWS.com/Budi Erje)[/caption]

 

Kegiatan lainya adalah kegiatan Napak Tilas Situs Desa, Pengajian Akbar dan Panggung Rakyat, yang sudah dilaksanakan. Sedangkan yang akan masih digelar adalah acara sarasehan dan dialog (2-3 Desember), Kirab Gunungan (4 Desember) dan Pagelaran Wayang Kulit  5 dalang 5 panggung dalam satu cerita (5 Desember).
Kegiatan lainya adalah kegiatan Napak Tilas Situs Desa, Pengajian Akbar dan Panggung Rakyat, yang sudah dilaksanakan. Sedangkan yang akan masih digelar adalah acara sarasehan dan dialog (2-3 Desember), Kirab Gunungan (4 Desember) dan Pagelaran Wayang Kulit  5 dalang 5 panggung dalam satu cerita (5 Desember).“Semua ini sebagai wujud syukur kami kepada Tuhan yang Maha Kuasa, atas rejeki dan berkah yang telah diberikan kepada kami. Selain itu juga untuk mempererat silahturahmi, kerukunan, kekeluargaan dan persatuan warga desa,” ujar Kahono Wibowo.Pada acara Kirab Seribu Ingkung ini, Kepala Biro Kesejahteraan Masyarakat Propinsi Jawa Tengah, Gunawan menyatakan sangat takjub melihat kebersamaan warga. Tradisi-tradisi yang ada di masing-masing wilayah menurutnya merupakan modal kuat untuk membangun Jawa Tengah.Tradisi-tradisi seperti ini memang harus dilestarikan untuk memperkokoh budaya masyarakat. Melalui tradisi-tradisi tersebut ada banyak pesan moral yang bisa digunakan untuk mendorong masyarakat bisa lebih intens berpartisipasi dalam pembangunan.“Kami kira apa yang dilakukan di Kendeng Sidi Alit ini juga bisa dilakukan di banyak wilayah lain di Jawa Tengah. Proses pembangunan juga memerlukan sebuha budaya yang baik, yang bisa mendukung proses pembangunan itu sendiri,” Ujar Gunawan yang hadir mewakili Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, Minggu (1/12/2019). Reporter: Budi ErjeEditor: Supriyadi

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler