Paket sembako bantuan dan masker tersebut berasal dari Dana Sosial dari surplus pengelolaan UPK BKAD Mayong pada tahun 2019.
Acara
launching penyaluran bantuan 3.350 paket sembako dilakukan oleh Camat Mayong Rini Patminidi Kecamatan Mayong yang juga merupakan Ketua Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 Kecamatan Mayong.
Masyarakat Mayong, khususnya pemanfaat Simpan Pinjam kelompok Perempuan (SPP) UPK Mayong diharapkan bisa terbantu dengan bantuan ini. Rencananya dalam dua hari, paket bantuan ini bisa disalurkan secara langsung kepada mereka yang membutuhkan.
Ketua UPK Mayong, Badruddin mengatakan, kegiatan ini ditujukan untuk meringankan beban masyarakat akibat dampak Covid-19.
Pada hari pertama ini, akan disalurkan paket bantuan untuk 100 kelompok masyarakat di enam desa. Jumlah paket bantuan yang disampaikan mencapai 1.381 buah.
”Sedangkan untuk rencana pada hari kedua besok, akan disalurkan ke-157 kelompok yang tersebar 12 desa. Jumlah paket sembako yang disalurkan jumlahnya sebanyak 2.097 paket. Mudah-mudahan bisa membantu meringankan beban masyarakat,” ujar Badruddin, Senin (4/5/2020).
UPK Mayong sendiri berdiri sejak tahun 2007. Sampai dengan program PNPM berakhir pada tahun 2015, UPK Mayong memiliki
asset microfinance sebesar Rp2,5 miliar.
Dalam perkembangan selanjutnya, UPK Mayong mampu mengembangkan modal tersebut menjadi Rp 10,5 miliar pada tahun 2020 ini.
Dalam perkembangan selanjutnya, UPK Mayong mampu mengembangkan modal tersebut menjadi Rp 10,5 miliar pada tahun 2020 ini.Selain itu, sampai saat ini UPK Mayong menaungi 319 kelompok dengan jumlah pemanfaat mencapai 3.494 orang.Sejak tahun 2010 mereka selalu membagi surplus dana sosial untuk kepentingan masyarakat pemanfaatnya. Mulai 2010 mereka mampu membagi dana surplus sebesar Rp 32,25 juta.Sedangkan pada tahun anggaran 2019 ini dana yang dibagi naik menjadi Rp 190 juta. Sehingga total komulatif dana yang sudah dibagi untuk kepentingan pemanfaatnya sudah mencapai Rp 1,36 miliar sampai tahun ini.“Dana sosial ini merupakan alokasi 15% dari sisa hasil usaha (SHU) UPK selama 1 periode tutup buku dalam kegiatan perguliran simpan Pinjam kelompok Perempuan (SPP). Dana ini diberikan kepada rumah tangga miskin setiap tahun sesuai dengan alokasi yang tersedia,” tambah Badruddin.Biasanya dana sosial diberikan dalam bentuk berbagai jenis bantuan, bisa berupa alat kerja, hewan ternak (kambing), rehab rumah, kursus, dan lain lain dengan jumlah sasaran mencapai 1.000 kepala keluarga. Namun pada tahun ini, dana sosial disampaikan dalam bentuk berbeda yakni berupa paket sembako, untuk meringankan beban masyarakat yang terdampak covid 19. Reporter: Budi ErjeEditor: Supriyadi
MURIANEWS, Jepara - Sebanyak 3.350 paket sembako dan masker dibagikan oleh Unit Pelaksana Kegiatan (UPK) Badan Kerja Sama Antar Desa (BKAD) Mayong, mulai Senin (4/5/2020).
Paket sembako bantuan dan masker tersebut berasal dari Dana Sosial dari surplus pengelolaan UPK BKAD Mayong pada tahun 2019.
Acara launching penyaluran bantuan 3.350 paket sembako dilakukan oleh Camat Mayong Rini Patminidi Kecamatan Mayong yang juga merupakan Ketua Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 Kecamatan Mayong.
Masyarakat Mayong, khususnya pemanfaat Simpan Pinjam kelompok Perempuan (SPP) UPK Mayong diharapkan bisa terbantu dengan bantuan ini. Rencananya dalam dua hari, paket bantuan ini bisa disalurkan secara langsung kepada mereka yang membutuhkan.
Ketua UPK Mayong, Badruddin mengatakan, kegiatan ini ditujukan untuk meringankan beban masyarakat akibat dampak Covid-19.
Pada hari pertama ini, akan disalurkan paket bantuan untuk 100 kelompok masyarakat di enam desa. Jumlah paket bantuan yang disampaikan mencapai 1.381 buah.
”Sedangkan untuk rencana pada hari kedua besok, akan disalurkan ke-157 kelompok yang tersebar 12 desa. Jumlah paket sembako yang disalurkan jumlahnya sebanyak 2.097 paket. Mudah-mudahan bisa membantu meringankan beban masyarakat,” ujar Badruddin, Senin (4/5/2020).
UPK Mayong sendiri berdiri sejak tahun 2007. Sampai dengan program PNPM berakhir pada tahun 2015, UPK Mayong memiliki asset microfinance sebesar Rp2,5 miliar.
Dalam perkembangan selanjutnya, UPK Mayong mampu mengembangkan modal tersebut menjadi Rp 10,5 miliar pada tahun 2020 ini.
Selain itu, sampai saat ini UPK Mayong menaungi 319 kelompok dengan jumlah pemanfaat mencapai 3.494 orang.
Sejak tahun 2010 mereka selalu membagi surplus dana sosial untuk kepentingan masyarakat pemanfaatnya. Mulai 2010 mereka mampu membagi dana surplus sebesar Rp 32,25 juta.
Sedangkan pada tahun anggaran 2019 ini dana yang dibagi naik menjadi Rp 190 juta. Sehingga total komulatif dana yang sudah dibagi untuk kepentingan pemanfaatnya sudah mencapai Rp 1,36 miliar sampai tahun ini.
“Dana sosial ini merupakan alokasi 15% dari sisa hasil usaha (SHU) UPK selama 1 periode tutup buku dalam kegiatan perguliran simpan Pinjam kelompok Perempuan (SPP). Dana ini diberikan kepada rumah tangga miskin setiap tahun sesuai dengan alokasi yang tersedia,” tambah Badruddin.
Biasanya dana sosial diberikan dalam bentuk berbagai jenis bantuan, bisa berupa alat kerja, hewan ternak (kambing), rehab rumah, kursus, dan lain lain dengan jumlah sasaran mencapai 1.000 kepala keluarga. Namun pada tahun ini, dana sosial disampaikan dalam bentuk berbeda yakni berupa paket sembako, untuk meringankan beban masyarakat yang terdampak covid 19.
Reporter: Budi Erje
Editor: Supriyadi