Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Ia menilai adat tradisi Sedekah Bumi sudah lekat di kehidupan warga Bumi Kartini. Bahkan sudah menjadi kearifan lokal yang ditujukan untuk tolak bala. Biasanya ada beberapa prosesi yang puncaknya dilakukan pentas wayang kulit.
”Kalau kegiatan ini diyakini pantang untuk ditinggalkan, maka harus ada jalan keluarnya. Petinggi Desa harus bisa membimbing masyarakatnya soal ini,” katanya saat rakor di Gedung Shima, Kompleks Setda Jepara, Rabu (15/7/2020).
Cara yang bisa ditempuh, lanjutnya, adalah dengan tetap menggunakan protokol kesehatan sebagai landasan. Kegiatan yang menimbulkan kerumunan tidak perlu dilaksanakan. Selain itu, Sedekah Bumi dilaksanakan dengan peserta terbatas.
”Jadi harus ada kesiapan terukur dari pemangku kebijakan dari masing-masing petinggi (kepala desa). Para Petinggi harus mampu menjaga kegiatan itu dengan tidak menimbulkan kerumunan, dan siapkan protokoler yang jelas dan ketat,” katanya.
Khusus untuk pentas wayang kulit, ia juga meminta supaya bisa digelar dengan secukupnya. Pentas wayang kulit cukup dimainkan lakon sepasang. Lalu ritual makan bersama bisa diganti dengan di antar ke rumah-rumah warga.
Baca Juga
Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik
WhatsApp Channel
&
Google News



