Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Bagaimana lagi, Sardi adalah satu-satunya pemilik bajak sapi di desa kelahirannya. Sebab, sebagian petani sudah banyak  yang menggunakan jasa traktor untuk membajak sawah. Tetapi, dia tidak patah arang, bahwa jasa bajak sapi juga masih diminati.

"Sudah 36 tahun saya membajak dengan sampi. Kalau musim tanam seperti ini, banyak yang antri hingga berhari-hari  untuk menggunakan jasa bajak sapi ini," terangnya sembari menyeruput kopi, Kamis (12/4/2018).

Di tengah arus teknologi pertanian yang semakin maju, sardi mengaku tidak minder. Bahkan, dia bertekad untuk menjadikan bajak sapi sebagai bagian dari tradisi.

Dia bercerita, di Kudus, bajak sapi sudah ada sejak zaman Belanda, bahkan mungkin sebelum itu. Waktu itu tidak hanya dua sapi yang digunakan untuk menarik bajak, tetaoi ada empat sapi dan dua bajak.  Tidak hanya di lahan kering, bajak sapi juga digunakan di lahan persawahan. Sehingga, dalam satu desa, ada lima hingga 10. Pemilik bajak sapi.

Tetapi, sekarang sudah berbeda. sardi mengaku sudah tidak menemukan pembajak di sekitar desanya. Bahkan, dalam satu kecamatan Dawe, diperkirakan hanya ada 7 pembajak sapi. Itu pun kondisi orangnya sudah tua-tua.

"Kalau dulu masih banyak. Tapi sekarang bisa dihitung dengan jari. Yang seangkatan saya saja, sudah banyak yang meninggal," tegasnya.Sampai saat ini, lanjutnya, masih banyak orang yang menggunakan jasa bajak dengan sapi. Apalagi di daerah yang pegunungan, dimana lahannya lebih banyak yang terasering. Apabila menggunakan traktor, jelas tidak bisa. Selain itu juga terlalu beresiko."Kalau pakai sapi kan tidak. Sapi bisa dikendalikan dengan mudah, apalagi kalau sudah terbiasa membajak," katanya.Mengenai regenerasi, sejauh ini tidak ada orang yang berkenan untuk membajak dengan sapi. Selain harus mempunyai keahlian khusus, perawatan sapi juga harus maksimal. Meski demikian, dia berharap agar keberadaan bajak sapi ini tetap di jaga."Ini adalah bagian dari warisan sejarah. Kalau tidak ada yang bisa membajak menggunakan sapi, tentu tradisi itu akan musnah," tandasnya.Editor: Supriyadi

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler