Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Dia sendiri mengaku, banyak pesanan kripik kulit ikan kakap dari Hongkong maupun Negara lainnya. Sebelumnya, olahan kripik tersebut juga sudah perah dibandingkan dengan olahan kripik kulit ikan yang ada di Hongkong.

“Banyak teman-teman saya yang ada di Hongkong memesan kripik kulit ikan kakap ini. Ada juga yang mulai membandingkan kualitas rasanya dengan olahan kripik kulit ikan yang ada di sana. Nantinya, apabila kualitasnya lebih bagus, katanya akan membeli dalam jumlah banyak,” ungkap Widiyanto.

Untuk membuat kripik kulit ikan kakap tersebut, awalnya dia berinovasi untuk membuat kripik yang belum ada di Pati dengan bahan baku yang melimpah. Kebetulan, di Juwana merupakan sentra produksi ikan terbesar di Jawa tengah. Tentunya, kulit ikan, terutama kakap juga melimpah. Bahkan, terkadang perusahaan membuang secara Cuma-Cuma kulit ikan kakap tersebut.

“Di Juwana sendiri ada banyak perusahaan ikan yang kulitnya tidak digunakan. Paling-paling kulit kasihkan ke pekerja untuk di olah sendiri. Karena itu, saya kemudian berpikir untuk memanfaatkan kulit ikan kakap menjadi makanan ringan,” ceritanya.

Pada tahap percobaan, dia selalu berinovasi untuk menciptakan rasa yang berbada dengan kripik ikan lainnya. Hasilnya, setelah beberapa kali melakukan tahap percobaan, Widiyanto kemudian menemukan rasa yang baku untuk dijual di pasaran.
“Karena saya tertarik dengan rasa kulit ikan kakap yang khas, saya kemudian menghubungi teman yang bisa mencarikan bahan baku kulit dari sekitaran Juwana. Teman saya itu menyanggupi dan saya langsung memproduksi dengan jumlah terbatas,” imbuhnya.Pada saat awal penjualan, pihaknya mengaku menitipkan olahan kripik tersebut ke warung-warung tetangga. Ternyata, banyak warga yang tertarik dan kemudian memesan kripik tersebut dalam jumlah banyak.Berangkat dari itu, kemudian Widiyanto berniat untuk memperlebar pasar penjualannya hingga ke luar daerah. Bahkan, permintaan dari luar daerah cukup banyak dibandingkan di daerah sendiri.Untuk satu bungkusnya,Widiyanto bisa menjual dipasaran dengan harga Rp. 15.000 rupiah. Dia berharap agar usaha yang sedang digelutinya tersebut dapat mengangkat produk makanan olehan di Kabupaten Pati.Editor: Supriyadi

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler