Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Anak kandung dari pasangan Ali Shodikin dan Ayu Ramhawati, warga Dukuh Bremi RT 03 RW 01 Desa Mencon, Kecamatan Pucakwangi, Pati ini, sering kali menangis lantaran merasakan sakit yang dideritanya.

Ali Sodikin bercerita, kelainan yang dialami oleh anaknya tersebut sudah terlihat sejak lahir. Ketika proses kelahiran di Puskesmas Pucakwangi, ternyata ada yang aneh.

Kemudian pihak puskesmas merujuk anaknya agar dilarikan ke RSUD Soewondo. Baru pada saat tiba di RSUD Soewondo tersebut, diketahui bahwa anaknya tidak memiliki lubang anus.

“Setelah itu, kami diberikan rujukan oleh doketer RSUD Soewondo untuk dibawa ke RS Kariadi, Semarang agar segera dilakukan operasi. Dua hari setelah kalahirannya, Firdiyansah kemudian dioperasi dan dibuatkan lubang anus sementara,” ungkapnya, Rabu (4/7/2018).

Dia melanjutkan, untuk lubang anus buatan sementara itu berada di perut bagian kiri. Dalam satu jam, ia juga harus mengganti popok, lantaran kotoran yang keluar tidak bisa dikontrol oleh si bayi.

“Paling lama untuk mengganti popok adalah dua jam. Tetapi, biasanya kurang dari satu jam sudah mengganti popok lantaran Firdiyansah sudah buang air besar,” imbuhnya.Dia mengaku, selama dalam proses pengobatan tersebut, pihaknya menggunakan kartu Jamkesmas, sehingga proses operasi dilakukan secara geratis. Hanya saja, untuk pembelian popok dan perawatan di rumah, tentu membutuhkan banyak biaya tambahan. Terlebih, kedua orang tua Firdiyansah merupakan petani.“Kebutuhan yang paling banyak, ya membeli popok. Karena, setiap dua jam, bahkan kadang tidak sampai satu jam, popoknya harus sudah diganti. Kalau tidak, pasti kotor dan anak tidak akan nyaman,” keluhnya.Dia berharap, kondisi Firdiyansah segera membaik, sehingga bisa melanjutkan operasi untuk pembuatan lubang anus secara normal.“Dalam jangka waktu enam bulan ke depan, Firdiyansah akan operasi lagi untuk pembuatan anus secara normal,” tutupnya.Editor : Ali Muntoha

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News