Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Sebab, jalur tersebut sama sekali belum diaspal dan sulit dilalui dan berada di tengah hutan. Padahal, jalan itu merupakan akses utama warga untuk melakukan aktivitas.

Tokoh masyarakat Dukuh Morotopo, Gus Irfan mengatakan, kedua ruas jalan yang melewati hutan itu berjarak 3,5 kilometer. Sebagian di antaranya sulit untuk dilewati, mengingat jalannya belum diaspal.

“Winong dan Todanan lebih dekat dari Morotopo dibanding ke Pucakwangi. Anak-anak sini sekolahnya di Todanan dan Winong karena pertimbangan jarak,” ujarnya, Senin (9/7/2018).

Dia mengungkapkan, sekolah untuk jenjang SD paling dekat dengan Morotopo yakni SD Karanganyar, Kecamatan Todanan. Adapun SMP/MTs dan SMA/MA/sederajat yang terdekat dari Morotopo berada di Kecamatan Winong.

[caption id="attachment_145105" align="aligncenter" width="715"] Pelajar asal Dukuh Morotopo, Desa Wateshaji, Kecamatan Pucakwangi melewati jalan di tengah hutan yang tergenang air. (MuriaNewsCom/Cholis Anwar)[/caption]

Di Kecamatan Pucakwangi, lembaga pendidikan mulai jenjang dasar hingga menengah memang tersedia. Hanya saja, dari Morotopo menuju ke sana relatif lebih jauh, sehingga tidak menjadi pilihan warga setempat.
“Kalau ke pusat Desa Pakishaji jaraknya lebih jauh. Apalagi ke pusat Kecamatan Pucakwangi, lebih jauh lagi karena jaraknya mencapai 15 kilometer,” jelasnya.Gus Irfan menambahkan, kondisi jalan menuju Todanan dan Winong dalam kondisi tidak layak. Selain relatif sempit, jalan juga belum beraspal sehingga hanya dapat dilewati dengan berjalan kaki dan bersepeda motor.“Kalau hujan ya motor kesulitan lewat. Anak-anak yang pergi sekolah terpaksa jalan kaki karena jalannya berlumpur karena tergenang air,” paparnya.Irfan mengaku pernah mengajukan bantuan ke pemerintah pusat melalui kolega di Jakarta. Namun, akses bantuan pembangunan infrastruktur terkendala rekomendasi dari Pemkab Pati.Diketahui, Morotopo merupakan perdukuhan dari Desa Wateshaji yang wilayahnya berada di tengah hutan di bawah Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Cabean pada Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Lunggoh di bawah naungan Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Pati.Editor : Ali Muntoha

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler