Selasa, 28 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Begitu juga dengan wisata petik jeruk yang ada di Desa Soneyan, kecamatan Margoyoso, Pati ini. setiap hari, ratusan pengunjung memadati kebun untuk memetik jeruk yang masih segar itu. Tak sediki pula yang membawa pulang hasil petikannya itu sebagai oleh-oleh.

Meli Kusumawati, salah satu warga Kecamatan Tayu mengaku tertarik untuk datang ke wisata petik jeruk di Desa Soneyan. Karena konsep wisata itu diakuinya cukup jarang ada di Kabupaten Pati.

“Kali pertama tahunya dari media sosial facebook dan juga ramai diceritakan teman-teman makanya saya pengen mencobanya. Ingin mencoba mencicipi jeruk yang matang langsung dari pohonnya,” ujar Meli.

Terlebih dia mengaku untuk membawa pulang jeruk dari objek wisata itu harganya juga relatif murah. Yakni hanya perlu mengeluarkan kocek sekitar Rp 7 ribu untuk setiap kilogramnya.

“Sekalian mau saya bawa sebagai oleh-oleh ke Tangerang tempat saya bekerja,”terangnya.
Riski Trimulyandoko, pengelola objek wisata petik jeruk itu mengaku, pihaknya sengaja membuka kebun jeruk tersebut menjadi tempat wisata. Karena dia melihat potensi wisatawan di daerah Pati Utara yang cukup baik.“Jadi kami harapkan sekalian bisa tetap menjual jeruk-jeruk ini tapi juga membawa sensasi wisata bahkan para pengunjung juga bebas memakan secara gratis saat di tempat. Konsepnya memang kami inginkan seperti wisata petik apel yang ada di Malang,” tambahnya.Hanya, untuk konsep wisata itu diakuinya terkendala dengan system buah jeruk yang hanya berbuah saat musim tertentu. Biasanya saat membuka satu spot wisata petik jeruk hanya dalam kurun waktu tiga sampai tujuh hari lantaran mempertimbangkan kapasitas produksi pohon jeruk itu sendiri.“Setelah dari Desa Soneyan ini kami merencanakan akan membuka yang ada di Kecamatan Gunungwungkal. Kami perkirakan disana satu bulan lagi sudah siap petik,” tutupnya.Editor : Supriyadi

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler