Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Peneliti sejarah asal Desa Prawoto, Ali Romdhoni mengatakan, perlindungan terhadap artefak yang ada di Desa Prawoto harus dilakukan. Selain untuk meminimalisir banyak artefak maupun peninggalan sejarah yang hilang, artefak itu juga bisa digunakan untuk merekonstruksi keberadaan peradaban di Prawoto.

”Bahkan kami melihat setidaknya pusat pemerintahan Demak Bintoro pernah berada di Prawoto. Ada sejumlah penguat akan hal itu. Baik dari sumber babad, cerita tutur dari masyarakat yang pernah menceritakan adanya bekas keraton, maupun sejumlah artefak dan peninggalan yang diketemukan di Prawoto,”ujar pria yang juga Dosen Unwahas.

[caption id="attachment_146578" align="aligncenter" width="715"] Sejumlah peneliti sedang melakukan penelitian di Desa Prawoto. (MuriaNewsCom/Cholis Anwar)[/caption]

Untuk itu, dirinya berharap langkah penelitian yang dilakukannya bisa menjadi awal dalam proses rekonstruksi sejarah di Prawoto. Dia juga berharap nantinya akan semakin banyak anak muda yang mulai bergerak untuk focus meneliti peninggalan sejarah Prawoto.

”Kami juga berharap masyarakat semakin menyadari peran penting posisi Prawoto. Dengan begitu kami berharap masyarakat semakin bersemangat dalam menjaga dan merawat setiap peninggalan sejarah yang ada,”ujar wakil Rois PCINU Tiongkok tersebut.Dia menilai, saat melakukan napak tilas diketahui memang telah banyak artefak yang rawan rusak. Seperti adanya semacam bangunan dari batu bata kuno yang belum banyak disadari fungsinya.”Jika tidak dirawat dengan baik, tentu bangunan dan batu bata kuno itupun rawan rusak dan menghilangkan bukti sejarah,” ujarnya.Selain itu banyak pula artefak yang mulai menghilang. Seperti sejumlah arca, maupun artefak batu yang dulunya ada tapi sekarang menghilang. Bentuk gapura yang memiliki nilai sejarah penting sekarang ini juga telah runtuh.Editor: Supriyadi

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler