Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.

Bagaimana tidak, hutan tersebut konon sering menjadi tempat pemujaan. Bahkan, dulunya juga menjadi tempat pembantaian orang-orang yang dianggap sebagai anggota PKI.

Tiap hari-hari keramat, selalu ada orang yang datang ke hutan tersebut, lengkap dengan sesaji. Sekitar satu kilometer masuk ke dalam hutan, terdapat tiga pohon jati besar. Warga sekitar menyebutnya "Jati Gowok" atau pohon jati yang di tengahnya berlubang.

Tepat di bawah pohon jati tersebut, ada berbagai macam sesaji, seperti dupa, bunga melati, bunga mawar dan cengkir kelapa. Sementara di sebelah timur pohon jati, terdapat dua nisan terbuat dari batu tua. Di atasnya juga ada bunga tabur.

Disinyalir, itu adalah sebuah makam seorang yang dulunya menjaga tempat tersebut. Di sebelah utara dan selatan Jati Gowok tersebut, terdapat dua pohon jati yang ukurannya sama besar. Hanya, tidak ada lubang di dalamnya.

Berdasarkan cerita dari Sartono tokoh Desa Regaloh, Kecamatan Tlogowungu, Hutan Lamin tersebut merupakan istana kerajaan alam gaib. Setiap malam Jumat, biasanya ada orang melakukan pemujaan di Jati Gowok itu.

"Dulu sering, tidak hanya malam Jumat, kalau hari-hari keramat banyak orang yang datang ke sana (Jati Gowok). Tetapi, saat ini sudah jarang yang mengunjungi lokasi itu," katanya.

Dia melanjutkan, orang yang datang ke Hutan Lamin tersebut, rata-rata meminta kekayaan. Dirinya mengetahui hal tersebut lantaran sebelumnya ada orang yang bercerita kepadanya.

Baca: Cerita Mistis dari ‘Kretek Genderuwo’ Hutan Lamin PatiSelain menjadi tempat pemujaan, di hutan tersebut disebutnya juga sebagai tempat pembantaian anggota PKI. Kejadiannya adalah pada 1965 silam. Usia Sartono, pada saat itu masih lima tahun. Tetapi ingatannya masih merekam jelas bagaimana para PKI tersebut diciduk dan kemudian dibawa ke Hutan Lamin."Setelah Maghrib biasanya banyak rombongan truk yang membawa para PKI bahkan ada warga desa yang disinyalir merupakan simpatisan PKI juga ikut dibawa. Kedua jempol tangannya diikat secara menyilang kemudian dinaikkan ke atas truk," ceritanya.Lebih lanjut, simpatisan PKI yang menolak akan dipukul secara paksa dan diseret ke atas truk. Sampai di Hutan Lamin, suara senapan pun nyaring hingga ke Desa Regaloh. Ternyata, itu adalah tanda bahwa para PKI sudah dieksekusi."Kalau Hutan Lamin itu angker, tentunya sangat wajar, karena tempat pembantaian," tutupnya. Reporter: Cholis AnwarEditor: Ali Muntoha

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler