Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Saat diperhatikan, binatang itu seperti belatung, ulat kecil atau cacing. Dan kondisinya masih hidup. Alhasil temuan Khoirul Anam itu membuat geger warga. Pasalnya, makanan itu baru dibuka dibuka dari kaleng kemasan ikan makarel.

"Saya lihat cacing itu ketika sudah saya tuang ke wajan. Begitu tahu ada cacing, tidak jadi saya masak. Saya pindah ke piring. Begitu saya belah daging ikannya, saya tambah terkejut, cacing di dalamnya banyak sekali," katanya, Rabu (10/7/2019).

Ini terjadi saat pengasuh Ponpes Al Hidayah Talun itu hendak memasak produk ikan makarel tersebut pada Selasa (9/7/2019) kemarin.

Padahal, jika dilihat pada kemasannya, tanggal kedaluwarsa makarel kemasan kaleng tersebut sebetulnya masih jauh, yakni tercantum pada 13 Mei 2022.

Makarel kalengan itu menurut dia, dibeli oleh istrinya saat ada pasar murah di Balai Desa Talun. Tak hanya istrinya, banyak warga yang juga membeli produk tersebut.

Melihat hal yang tak lazim itu, Anam langsung merekam temuannya tersebut dan menyebarkannya di grup-grup WhatsApp yang dia ikuti. Dia khawatir jika dalam kaleng makarel yang dibeli tetangga-tetangganya di pasar murah juga terdapat cacing parasit.

"Saya khawatirnya itu buruk bagi kesehatan. Sebab kalau tidak dicegah, (makarel) itu nanti juga dimakan anak-anak kami. Saya juga ingin tahu apakah tetangga-tetangga saya mengalami hal yang sama," ujarnya.

Sebelumnya dia sempat menyimpan makarel penuh cacing itu di kulkas. Dengan maksud berjaga-jaga jika diperlukan sebagai barang bukti.

"Tapi istri saya bilang jijik. Dia sampai hilang selera makan. Akhirnya saya buang. Bahkan tiga kaleng makarel lainnya yang belum sempat saya buka juga saya buang," jelasnya.Anam menjelaskan, makarel kaleng tersebut dibeli istrinya di Balai Desa Talun pada Sabtu (6/7/2019) lalu, pada even pasar murah. Nama resmi even tersebut ialah "Program Peduli Pemberdayaan Gizi, Harga Langsung Pabrik ke Masyarakat" yang digelar salah satu produsen makanan olahan.Dia menceritakan, ada tiga paket produk yang dijual, yakni mi instan goreng kemasan 60 gram (isi 15 bungkus), mi instan kuah kemasan 58 gram (isi 17 bungkus), dan makarel kemasan 155 gram (isi 4 kaleng).Ketiga paket tersebut bisa ditebus warga dengan harga Rp 20 ribu. Namun, untuk membelinya, warga harus menyertakan kupon khusus yang dibagikan sehari sebelumnya.Menurutnya, perusahaan pasti sudah menjalankan SOP (Standar Operasional Prosedur) yang dimilikinya. Namun, kebetulan saja ada satu atau dua kemasan yang luput."Saya cerita begini sebagai bentuk kepedulian saya sebagai konsumen saja. Karena kenyataannya memang saya alami seperti itu," pungkasnya. Reporter: Cholis AnwarEditor: Ali Muntoha

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler