Kekeringan Lahan Pertanian di Pati, Potensi Kerugian Capai Rp 13 Miliar
Cholis Anwar
Jumat, 2 Agustus 2019 18:00:06
Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Apalagi, usia tanam sudah mencapai 40 hingga 60 hari. Di usia itu, asupan air untuk tanaman padi harus lebih banyak agar bisa mengeluarkan biji padi. Apabila tidak ada irigasi, mutlak tanaman terancam puso.
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Dispertanak) Kabupaten Pati Muhtar Efendi mengatakan, dari data yang diperolehnya, kekeringan sudah melanda 9 kecamatan di Pati. Sementara untuk lahan persawahan yang tidak mendapatkan aliran air sebanyak 3.578 hektare.
"Yang sudah terancam puso ada sebanyak 1.700 an hektare. Potensi kerugian apabila tidak ada irigasi mencapai Rp 13 miliar, bahkan bisa lebih," katanya, Jumat (2/8/2019).
Lebih lanjut, saat ini pihaknya tengah mengupayakan agar sawah yang terancam puso itu mendapatkan irigasi dari Bendungan Logung. Hanya saja, itu masih membutuhkan proses untuk berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana.
"Kami akan mengupayakan agar areal persawahan, terutama di Kecamatan Margorejo dan Gabus, mendapatkan irigasi. Ini dalam rangka menyelamatkan padi yang sudah di tanam itu," ungapnya.
Baca Juga
Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik
WhatsApp Channel
&
Google News



