Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Terlebih kirab boyongan ini tidak dilakukan setiap tahun, namun hanya lima tahun sekali. Alhasil, pelaksanaanya pun dilakukan secara meriah.

Dalam kirab ini, pusaka milik Kabupaten Pati yakni Keris Rambut Pinutung dan Keluk Kanigara diarak menggunakan tandu khusus. Bupati Pati Haryanto beserta Wakilnya Saiful Arifin mengikuti dua pusaka ini dari pendapa lama di Kemiri ke pendapa baru di Kaborongan.

Proses ini menandakan boyongan atau pindahan pusat pemerintahan Kabupaten Pati dari Kemiri ke tempat saat ini, ratusan tahun lalu. Proses perpindahan pusat pemerintahan inilah yang diabadikan sebagai Hari Jadi Kabupaten Pati.

[caption id="attachment_170125" align="alignleft" width="1280"] Bupati Haryanto dan istri beserta Wakil Bupati Saiful Arifin mengikuti kirab boyongan dari Pendapa Kemiri ke Pendapa Kabupaten Pati. (MURIANEWS.com/Cholis Anwar)[/caption]

Salah satu warga, Maysaroh (24) mengaku datang mulai pukul 11.00 WIB. Itu dia lakukan agar dapat menyaksikan prosesi kirab yang dinilai mempunyai makna panjang.

"Dari ceritanya, kirab boyongan ini kan dilakukan lima tahun sekali. Karena itu, saya tidak mau ketinggalan untuk menyaksikan momen penting ini," tuturnya.

Ketika ditanya sekilas tentang sejarah Hari Jadi Pati, dirinya mengaku tidak mengetahui. Hanya saja, setiap kali ada peringatan Hari Jadi Pati, dirinya tidak pernah ketinggalan untuk menyaksikan kirab.
Ketika ditanya sekilas tentang sejarah Hari Jadi Pati, dirinya mengaku tidak mengetahui. Hanya saja, setiap kali ada peringatan Hari Jadi Pati, dirinya tidak pernah ketinggalan untuk menyaksikan kirab."Inginnya sih mengetahui sejarah berdirinya Pati, tapi cari bukunya susah. Paling sekilas cerita tutur dari orang tua," ujarnya.Sementara itu, Kabag Humas Setda Pati Ahmadi mengatakan, prosesi kirab boyongan ini mengandung muatan filosofis mengenai sejarah terbentuknya Kabupaten Pati."Pati memiliki sejarah panjang sebagai daerah yang lebih tua dibandingkan Solo dan Yogyakarta. Ini jelas tidak terbantahkan lagi jika kita menilik cerita Babad Tanah Jawa itu sendiri. Ini yang kita sampaikan pada masyarakat melalui ritual kirab boyongan," ungkapnya.Sehingga, karena pentingnya filosofi itu, warga sebelumnya diminta untuk datang dan menyaksikan kirab boyongan tersebut agar mengetahui sejarahnya. Reporter: Cholis AnwarEditor: Ali Muntoha

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler