Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Namun, di tengah gempuran peradaban, eksistensi kesenian tradisional itu mulai memudar. Ditambah dengan minimnya generasi muda yang perhatian dan konsen untuk melestarikan barongan itu.

Reban (59), pemilik seni barongan Cipta Budhaya di Desa Sarirejo, Kecamatan Pati mengeluhkan hal tersebut. Ia menyebut, saat ini generasi muda enggan untuk mempelajari kesenian tradisional barongan.

"Mungkin bisa dihitung jari (pemuda yang mau melestarikan barongan). Sehingga, kami sebagai generasi yang tua, sulit untuk melakukan pembinaan," katanya, Jumat (13/9/2019).

Padahal generasi muda merupakan harapan utama para seniman barongan untuk melestarikan produk budaya lokal ini.

Ia punya harapan tinggi, agar kesenian tradisional seperti barongan tak hilang digilas zaman. Terlebih, selain sebagai warisan leluhur, barongan juga mempunyai nilai spiriual. Bahkan untuk memainkannya sendiri, dibutuhkan keahlian khusus yang harus dilalui dengan berbagai ritual.

"Tidak sembarang orang bisa bermain barongan. Sebab, ada ritual yang harus dilakukan terlebih dahulu," ujarnya.

Karena itulah, kesenian barongan ini hanya tampil pada even-even khusus. Seperti saat sedekah bumu, ataupun untuk melengkapi orang yang bernazar.

“Biasanya kami melakukan pertunjukan ketika ada acara tertentu. Kami sudah pernah tampil di berbagai desa di Kabupaten Pati,” ungkapnya.Reban menambahkan, barongan yang dimilikinya tersebut dibuat sekitar tahun 1960-an, yakni buatan Almarhum Mulyono. Bahkan dia menilai bahwa barongan Cipta Budhaya itu adalah yang tertua di Bumi Mina Tani."Barongan ini termasuk salah satu barongan yang tua di Pati. Intinya, jangan sampai punah," katanya.Dirinya berharap agar para generasi muda dapat mencintai kesenian barongan itu. Setelah ada kecintaan, baru kemudian mempelajari dan melestarikan. Sebab, tidak mungkin tanpa mencintai akan muncul rasa mememiliki."Ini adalah tanggung jawab kita, termasuk generasi muda. Jadi, jangan sampai kesenian barongan ini dilupakan begitu saja tanpa ada yang melestarikannya," pungkasnya. Reporter: Cholis AnwarEditor: Ali Muntoha

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler