Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Salah satunya yakni puasa selama 40 hari, serta berbagai macam persiapan yang harus dilakukan. Bahkan jika ada salah satu syarat yang tidak terpenuhi, bisa dikatakan tapa tersebut gagal.

Hal itulah yang saat ini berusaha dilakukan oleh Mbah Supani atau biasa dipanggil Mbah Pani. Ia menyebut telah menjalankan puasa 40 hari tanpa memakan nasi. Dan nanti malam adalah puncak ritual yang harus dilakukan.

Keluarga Mbah Pani, Suyono mengatakan, syarat yang pertama adalah puasa selama 40 hari. Kalau puasa sudah selesai, maka tahap selanjutnya adalah tapa pendem.

Menurut dia, dalam tapa pendem sendiri ada berbagai hal yang harus disiapkan. Pertama adalah liang kubur yang lokasinya tidak boleh diubah, mulai dari awal pertapaan hingga ke 10 kali.

"Dari tapa pendem pertama sampai 10 kali ini, lokasinya harus sama. Tidak ada perubahan," katanya, Senin (16/9/2019).

Lokasi tapa Mbah Pani sendiri ada di ruang tengah rumahnya. Posisinya lurus dengan pintu masuk rumah. Kedalamannya tiga meter.

Dalam liang yang sudah disiapkan itu, terlihat terdapat air yang menggenang. Air tersebut merupakan rembesan dari sumber. Nantinya saat Mbah Pani sudah melakukan ritual tapa di dalam liang itu, air tersebut akan disedot tiap tiga jam sekali agar liang tetap kering.

Dalam menjalankan tapa pendem ini, Mbah Pani akan dikafani seperti mayat. Pihaknya juga telah menyiapkan minyak ”kerah macan” untuk ditaburkan pada kafan. Lalu kendil mulai dari ukuran yang paling kecil hingga yang paling besar.
Baca juga: Layaknya sebuah pemakaman, dalam prosesi itu juga ada nisan yang dibungkus kain kafan. Ada juga beberapa kelapa muda sebagai pelengkap ubo rampe.Ketika ditanya terkait hasilnya selama ini, Suyono mengaku tidak mengetahui secara pasti. Hanya saja, setelah Mbah Pani melakukan ritual itu, ada banyak orang yang datang ke rumahnya."Seperti ada majelis gitu. Kalau tujuan pastinya, saya sendiri kurang tau," pungkasnya. Reporter: Cholis AnwarEditor: Ali Muntoha

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler