Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Dari pengamatan MURIANEWS.com, pihak keluarga melakukan pembongkaran liang untuk bertapa menggunakan cangkul dibantu oleh warga sekitar. Setelah kelihatan papan penutup liang pertapaan, paralon yang semula digunakan untuk komunikasi juga disingkirkan.

Secara perlahan keluarga membuka papan penutup hingga Mbah Pani kelihatan. Posisi Mbah Pani pada saat berada di dalam tanah masih terbungkus dengan kain kafan.

Wajah Mbah Pani juga nampak pucat dan gemetar. Namun, keluarga kemudian turun ke liang pertapaan untuk memberikan makan dan minum kepada Mbah Pani.

Selain itu, pihak keluarga juga memandikan Mbah Pani dengan air bunga selama beberapa kali. Posisi masih berada di liang pertapaan.

[caption id="attachment_173210" align="aligncenter" width="1032"] Pihak keluarga membongkar liang makam yanh digunakan Mbah Pani untuk tapa pendem. (MURIANEWS.com/Cholis Anwar)[/caption]

Setelah selesai dimandikan, secara perlahan Mbah Pani diselimuti menggunakan sarung. Kain kafan yang berada di tubuhnya pun perlahan dibuka oleh keluarga.

Perlahan Mbah Pani mulai berdiri dan bersiap untuk keluar dari liang pertapaan. Sambil dibantu keluarga, Mbah Pani beranjak dan tangannya ditarik hingga benar-benar keluar dari liang pertapaan.

Baca juga: 
Baca juga: Percepatan waktu pembongkaran tempat pertapaan Mbah Pani ini memang tidak diduga. Mengingat, kondisi papan penutup liang pertapaan memang sebagian sudah ada yang mulai retak.Sebelumnya pihak keluarga mendapat bisikan dari Mbah Pani jika ia ingin dibangunkan dari tapa pendem usai Maghrib. Namun karena papan sudah mulai retak pembongkaran dipercepat, untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan."Kami buka karena salah satu papan penutupnya mulai rapuh. Sehingga kami langsung membukanya bersama dengan keluarga," kata Joko Wiyono, Adik ipar Mbah Pani. Reporter: Cholis AnwarEditor: Ali Muntoha

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler