Enam Bulan Jualan di Tempat Relokasi, PKL Alun-Alun Pati Merasa Sengsara
Cholis Anwar
Rabu, 25 September 2019 14:50:26
Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Khasanah (57) warga Dukuh Setulan RT 2 RW 1 Desa Sidoharjo, Kecamatan Pati yang merupakan penjual empek-empek di pusat kuliner itu mengakui hal tersebut. Selama enam bulan, omzet yang didapatkan jauh dari harapan.
"Kalau hari-hari biasa, semalam dapat Rp 20 ribu hingga Rp 50 ribu. Kalau malam Minggu, biasanya dapat Rp 100 ribu. Itu omzet, bukan keuntungan," katanya, Selasa (25/9/2019).
Dia bercerita, setiap malam hanya menunggui dagangan yang terkadang tidak laku sama sekali. Jika sudah begitu, dirinya hanya bisa pasrah dan memberikan empek-empek dagangannya kepada pedagang yang lain.
[caption id="attachment_173473" align="aligncenter" width="1280"]
Para PKL Alun-Alun Simpang Lima sedang berkumpul. (MURIANEWS.com/Cholis Anwar)[/caption]Padahal, untuk membeli bahan baku, dirinya harus mengeluarkan banyak uang. Barang juga cepat basi. Risikonya, bahan tidak bisa ditimbun lebih lama, sehingga sehari harus habis.
Dia membandingkan, pada saat masih di Alun-Alun Pati, omzet yang didapat Khasanah, paling sedikit Rp 100 ribu. Bahkan kalau malam Minggu, omzet bisa sampai Rp 500 ribu.
Baca Juga
Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik
WhatsApp Channel
&
Google News



