Kemarau Panjang, 3.700 Hektare Sawah di Pati Kekeringan
Cholis Anwar
Kamis, 17 Oktober 2019 13:53:21
Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Kepala Dinas Pertanian (Dispertan) Kabupayen Pati Muhtar Efendi mengatakan, kekeringan itu terjadi lantaran musim kemarau yang tergolong panjang. Sampai pada Oktober 2019, hujan belum juga turun.
Padahal, jika berpatokan pada penghitungan musim di Indonesia bagian barat, seharusnya Oktober sudah mulai memasuki musim hujan.
"Itu yang membuat kekeringan di wilayah pertanian semakin banyak. Yang kasihan adalah yang puso, karena padi tidak bisa dipanen. Kalau pun panen, hasilnya juga tidak seberapa," katanya, Kamis (17/10/2019).
Selain hujan yang belum juga turun, kekeringan di lahan pertanian juga karena irigasi dari Waduk Gembong dan Waduk Gunungrowo tidak bisa mencukupi. Artinya, irigasi hanya sampai pada penanaman.
"Karakter padi itu kan memang membutuhkan banyak air, terutama pada saat padi sudah mulai tumbuh. Lha, kemarin itu, saat padi mulai tumbuh, airnya tidak ada," ujarnya.
Baca Juga
Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik
WhatsApp Channel
&
Google News



