Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Tamzis Al Anas, pemilik Batik Yuliati Warno salah satu produsen batik Bakaran di Desa Langgenharjo, Juwana, Pati menuturkan, lonjakan permintaan batik Bakaran sudah terjadi sejak HUT Pati Agustus 2019 lalu.

Peningkatannya mencapai 100 potong dalam sebulan. Kemudian September 2019 juga mengalami peningkatan.

“Peningkatan drastis sejak Oktober hingga November ini. Jika dikalkulasi semua ada sekitar 1.000 pesanan. Ada beberapa dinas yang memesan dengan skala besar,” katanya, Jumat (8/11/2019).

Bahkan saat ini masih ada pesanan batik yang belum jadi. Sebab, batik yang dipesan adalah motif klasik sehingga membutuhkan waktu agak lama.

Satu motif bisa membutuhkan waktu hingga dua pekan. Batik yang dipesan oleh ASN sebagai baju adat Pati kebanyakan motif liris, manggar, kedele kecer, parang, ladrang, gandrung, kawung, hingga kungker.

"Satu potong harganya sekitar Rp 200 ribu-Rp 1 juta. Harga tergantung kualitas canting, pewarnaan, dan kain," ujarnya.
"Satu potong harganya sekitar Rp 200 ribu-Rp 1 juta. Harga tergantung kualitas canting, pewarnaan, dan kain," ujarnya.Baca: Iuran BPJS Naik, Ganjar Minta Tunggakan Rp 249 Miliar di 6 RSUD Segera DibayarUntuk memenuhi permintaan komsumen itu, saat ini pihaknya mempekerjakan 32 pembatik perempuan yang mengerjakan batik Bakaran dengan sistem pengerjaan di rumah masing-masing. Semuanya ibu rumah tangga, sehingga dengan kebijakan itu bisa meningkatkan perekonomian warga.“Dengan kewajiban ASN menggunakan batik Bakaran, kami dari perajin sangat senang. Ini memperkuat perekonomian rakyat. Kalau bisa tidak hanya ASN saja, namun semua lembaga atau sekolah menggunakan batik produksi lokal Pati,” pungkasnya. Reporter: Cholis AnwarEditor: Ali Muntoha

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler