ASN di Pati Wajib Pakai Batik Bakaran, Perajin Kebanjiran Orderan
Cholis Anwar
Jumat, 8 November 2019 11:10:13
Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Tamzis Al Anas, pemilik Batik Yuliati Warno salah satu produsen batik Bakaran di Desa Langgenharjo, Juwana, Pati menuturkan, lonjakan permintaan batik Bakaran sudah terjadi sejak HUT Pati Agustus 2019 lalu.
Peningkatannya mencapai 100 potong dalam sebulan. Kemudian September 2019 juga mengalami peningkatan.
“Peningkatan drastis sejak Oktober hingga November ini. Jika dikalkulasi semua ada sekitar 1.000 pesanan. Ada beberapa dinas yang memesan dengan skala besar,” katanya, Jumat (8/11/2019).
Bahkan saat ini masih ada pesanan batik yang belum jadi. Sebab, batik yang dipesan adalah motif klasik sehingga membutuhkan waktu agak lama.
Satu motif bisa membutuhkan waktu hingga dua pekan. Batik yang dipesan oleh ASN sebagai baju adat Pati kebanyakan motif liris, manggar, kedele kecer, parang, ladrang, gandrung, kawung, hingga kungker.
"Satu potong harganya sekitar Rp 200 ribu-Rp 1 juta. Harga tergantung kualitas canting, pewarnaan, dan kain," ujarnya.
Baca Juga
Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik
WhatsApp Channel
&
Google News



