Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Hal iti diungkap Direktur Arus Survei Indonesia (ASI) Ali Rif'an dalam dialog publik bertajuk "Literasi Medsos di Kalangan Pemuda dan Pemuda Sebagai Upaya Deradikalisasi” di aula Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Pati, Rabu (4/12/2019).

Dia juga menyebut, ada 10 perguruan tinggi yang terindikasi terpapar oleh radikalisme. Oleh karena itulah penting dilakukan pencegahan terutama di kalangan pemuda khususnya mahasiswa.

“Sudah menjadi keharusan anak muda saat mendapatkan broadcast pesan harus disaring dahulu sebelum membagikannya,” terang Rif'an.

Cara lain, dikatakannya harus siap menjadi siskamling digital. Yakni dengan jalan mengawasi keluarga, baik istri, anak maupun saudara terkait apa yang diaksesnya.

Dengan begitu diharapkan proses pengawasan terhadap apa yang diakses dalam media sosial dapat terpantau.

“Indikasi radikal menurut Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) itu jelas yakni terlihat mulai intoleran, fanatik berlebihan, eksklusif atau merasa paling benar dan menginginkan perubahan secara radikal,” ujarnya.

Meski radikal berbeda bila dibandingkan dengan terorisme, namun menurutnya radikalisme bisa menjadi embrio terorisme. Bedanya radikal masih sebatas pemikiran sementara terorisme lebih kepada perbuatan.“Dengan begitu penanganan radikalisme tidak bisa sebatas represif saja. Tapi juga harus dialog. Yakni dengan melalui jalan diskusi. Ideologi juga harus dilawan dengan ideologi pula,” imbuhnya.Sementara itu, panitia acara Sofiuddin mengatakan, dengan digelarnya acara tersebut memang diharapkan dapat mengajak para pemuda untuk lebih bijak dalam bermedia sosial. Yakni mampu memilah konten yang dibaca maupun akan dibagikan.“Kami ingin mengajak agar tidak mudah terprovokasi dari media sosial dan tentunya lebih bijak saat hendak membagikan konten yang tidak jelas kebenarannya,” terangnya. Reporter: Cholis AnwarEditor: Ali Muntoha

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler