Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Ketua Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) Kamelan mengatakan, total ada 30 hektare lahan sawah yang masih terendam banjir. Semuanya posisinya berada di dekat bantaran sungai Silugonggo.

"Terendam sudah lama. Sejak Desember tahun lalu. Sampai saat ini belum surut," katanya.

Kondisi demikian, membuat para pemilik lahan tidak bisa berbuat banyak. Lantaran lahan tidak bisa ditanami padi. Apalagi kondisi air masih tinggi.

Kamelan mengaku belum bisa memastikan kapan air di lahan persawahan itu akan surut. Sebab, sampai lima bulan ini, belum ada tanda penurunan air secara signifikan.

"Surut sedikit. Tapi kebanyakan masih terendam air," jelasnya.

Padahal, terang Kamelan, sampai saat ini seharusnya sudah panen dua kali. Mengingat panen pada masa tanam tahap pertama adalah pada Februari lalu. Kemudian bulan ini adalah panen pada masa tanam kedua.Untuk satu hektare sawah diperkirakan bisa memanen padi tujuh hingga sembilan ton. Apabila dikalikan dengan jumlah lahan yang terendam, maka ada 270 ton kerugian petani."Posisinya memang tidak bisa ditanami. Petani ya pasrah, nunggu normalisasi dilakukan," tutupnya. Reporter: Cholis AnwarEditor: Supriyadi

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler