Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Mahasiwa UNNES Semarang yang melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Sukoharjo, Kecamatan Wedarijaksa membuktikan hal tersebut. Berawal dari keprihatinan banyaknya limbah rumah tangga tersebut, mereka berhasil menyulap kulit bawang bisa menjadi biopestisida.

Moch Faizal Rachmadi anggota KKN BMC-19 Unnes mengatakan, masalah yang sering dijumpai saat berkebun adalah hama. Terkadang, untuk mengatasi hama itu petani lebih memilih pupuk kimia. Padahal kulit bawang pun bisa untuk mengatasi itu.

"Karena itu, mahasiswa KKN UNNES mengajari ibu-ibu PKK untuk membuat kulit bawnag menjadi biopestisida. Karena ini nantinya sangat bermanfaat untuk pertanian," katanya.

Sementara proses pengolahannya, kulit bawnag direndam dengan air selama satu hingga dua hari. Tentunya itu dengan perbandingan 1:1. Setelah itu, air rendaman bisa langsung digunakan untuk pertanian.

"Di dalam bawang merah sendiri terkandung senyawa acetogenin. Penggunaan dalam konsentrasi tinggi, senyawa tersebut berguna sebagai anti-feeden yang dapat menyebabkan serangga bahkan hama tidak akan nyaman memakan tanaman, bahkan bisa mengakibatkan kematian pada serangga," imbuhnya.
"Di dalam bawang merah sendiri terkandung senyawa acetogenin. Penggunaan dalam konsentrasi tinggi, senyawa tersebut berguna sebagai anti-feeden yang dapat menyebabkan serangga bahkan hama tidak akan nyaman memakan tanaman, bahkan bisa mengakibatkan kematian pada serangga," imbuhnya.Dalam penggunannya, apabila digunakan dalam dosis kecil, maka nafsu makan hama akan berkurang. Sedangkan penggunaan dosis banyak akan menyebabkan serangga keracunan."Sangat simpel dan sederhana. Semoga ini bisa dipraktekkan masyarakat. Sehingga dapat membuat biopestisida secara mandiri," tutupnya. Reporter: Cholis AnwarEditor: Supriyadi

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News