Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Itu terjadi setelah ia menjadi korban Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) oleh salah satu Pabrik Pengolahan Kayu di Papua karena kena imbas pandemi Covid-19. Kala itu, ia merupakan satu dari ratusan karyawan yang terpaksa diberhentikan supaya perusahaan tetap berjalan.

Sebagai tulang punggung keluarga, awalnya dia bingung karena sudah tidak lagi bekerja. Sementara sisa tabungan, semakin hari kian menipis untuk mencukupi kebutuhan dapur. Belum lagi untuk memberikan uang jajan pada anaknya.

Karena itu, dia pun memutar otak agar bisa mendapatkan penghasilan. Setelah dipikir panjang, Yasmin memberanikan diri untuk membudidayakan unggas, yakni burung puyuh.

"Mulai Februari, karena saya kena PHK, saya bersama keluarga berpikir untuk membudidayakan burung puyuh. Nanti telurnya kami jual," kata Yasmin.

Awal budidaya, Yasmin sempat bingung lantaran ada banyak burung yang mati mendadak. Dia pun mulai meneliti penyebab kematiannya. Sambil terus berjalan, akhirnya dia menemukan solusi agar burung tidak mudah mati.

Dari situ, cuan pun mulai mengalir. Ia bahkan mendapatkan kepercayaan dari berbagai warung dan angkringan untuk menyetok kebutuhan telur puyuh. Selain itu ada juga pengepul yang datang ke rumah.

"Alhamdulillah dari ternak puyuh ini kebutuhan keluarga tercukupi," ujarnya.
"Alhamdulillah dari ternak puyuh ini kebutuhan keluarga tercukupi," ujarnya.Yasmin menambahkan, saat ini total ada 3.000 ekor burung puyuh yang dipelihara. Jumlah itu awalnya hanya 100 ekor puyuh petelur. Kemudian tahap kedua diisi dengan 1100 ekor dan ditambah 900 ekor."Ini tidak semuanya hidup, ada yang mati juga. Tapi tingkat kematiannya sudah berkurang," ungkapnya.Karena semangat dan kegigihan Yasmin, tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari UIN Wali Songo Semarang pun menyempatkan datang ke kandang Yasmin. Mereka banyak memberikan masukan dan banyak belajar juga dari Yasmin."Ini salah satu contoh yang baik. Di PHK seharusnya tidak menjadi alasan orang tidak mendapatkan penghasilan. Karena mereka bisa menggunakan kemampuannya untuk mendirikan usaha," ujar Azlina, salah seorang tim KKN Walisongo Semarang. Reporter: Cholis AnwarEditor: Supriyadi

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler