Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Kepala Cabang PT Ganusa Eramandiri Candra Kristianto mengatakan, sejak April hingga Juli 2020 kemarin, pihaknya sempat tak bisa melakukan ekspor olahan kacang tanah yang diproduksi. Hal itu karena mayoritas negara tujuan termasuk Indonesia melakukan pembatasan ekspor-impor.

"Kondisi saat itu membuat kami benar-benar terpuruk. Dampaknya tidak hanya perusahaan, pekerja pun terdampak. Karena permintaan berkurang, mereka pun tidak bisa bekerja maksimal seperti biasanya," katanya, Selasa (17/11/2020).

Pihaknya baru bisa bernafas lega di bulan Agustus lalu. Pada bulan itu, pemerintah luar negeri sudah mulai membuka kran ekpor produk dari Indonesia, termasuk dari Pati.

Apalagi, lanjut Candra, aktivitas perusahannya itu memang skala ekportir. Kendati demikian, pihaknya tetap optimistis untuk bisa mengirim kacang kering ke luar negeri dengan jumlah 1.000 ton per tahun.

"Ini yang menjadi tantangan berat. Karena ekpor kami tidak hanya di wilayah negara asia speerti Malaysia, Singapura, Hongkong. Sementara untuk di Eropa ada di Amerika dan Kanada. Semuanya kacang kering," ungkapnya.
"Ini yang menjadi tantangan berat. Karena ekpor kami tidak hanya di wilayah negara asia speerti Malaysia, Singapura, Hongkong. Sementara untuk di Eropa ada di Amerika dan Kanada. Semuanya kacang kering," ungkapnya.Untuk mendapatkan kacang itu, pihaknya pun menyerap kacang dari petani lokal pati. Tetapi persentasenya tidak begitu tinggi lantaran kualitas yang kurang mendukung."Sebagian besar kami mengambil di Banyumas, karena di sana kami sudah bermitra dengan petani dan pengolahannya pun kami arahkan agar kualitas dan kuantitasnya terpenuhi," tutupnya. Reporter: Cholis AnwarEditor: Supriyadi

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler